Thursday, April 9, 2026

DNA TERJAJAH DAN KEMERDEKAAN SEMU



Setengah semester belajar filsafat politik dan filsafat pancasila di tingkat pascasarjana membangkitkan naluri kegilaan saya untuk menafsir di tengah safana. Kegilaan ini lahir bukan pada saat membaca teks-teks berat seperti Being and Time atau Critique of Dialectical Reason. Ada semacam kegelisahan yang terus menggerogoti, mengapa saya, dalam beberapa kali berdiskusi tentang kapitalisme, tetap merasa tidak berdaya di depan etalase toko? Mengapa tiket pesawat ke Ambon yang mahal tetap saya beli sambil menggerutu? Mengapa ketika dosen saya berbicara tentang dekolonisasi, pikiran saya malah melayang ke promo belanja online?

Tulisan ngawur ini bukanlah makalah akademik yang rapi dengan footnote dan daftar pustaka. Ini hanyalah kegelisahan pribadi yang sedang bergulat dengan pertanyaan: apakah kemerdekaan Indonesia hanya sebuah lelucon sejarah, jika kesadaran kita masih hidup dalam penjajahan yang baru—penjajahan oleh hasrat konsumtif, oleh kenyamanan berbiaya tinggi, dan oleh ketakutan eksistensial akan kemiskinan?

Saya hendak menguraikan beberapa argument yang bodoh dan kedengaran tak masuk akal. Namun bukankah kita hidup dalam semua hal terlihat gila di luar ke-akal-an kita? Setidaknya ketidakakalan argument saya ini lahirkan dari akal. 

Frantz Fanon pernah menulis bahwa penjajahan tidak pernah sekadar masalah ekonomi atau militer. Ia merusak struktur kesadaran. Orang yang terjajah menginternalisasi pandangan penjajah tentang dirinya: malas, tidak rasional, boros, dan butuh dituntun. Fanon menyebut ini sebagai inferioritas kultural. Tapi Fanon meninggal di tahun 1961, sebelum kapitalisme konsumsi menjadi agama global. Jika ia hidup hari ini, ia akan melihat bahwa “DNA terjajah” yang ia maksud bukan lagi warisan kolonial Belanda semata, melainkan warisan yang terus diperbaharui oleh iklan, algoritma, dan industri kesehatan.

Ketika saya mengatakan “DNA terjajah”, tentu ini bukan fakta biologi. Ini adalah metafora untuk kebiasaan batin yang begitu mengendap hingga terasa seperti alamiah. Kita terbiasa menginginkan barang bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan zaman. Kita terbiasa memuja kenyamanan bukan karena itu baik, tapi karena ketidaknyamanan diidentikkan dengan kemiskinan. Kita terbiasa memilih obat kimiawi dibanding ramuan tradisional bukan karena bukti ilmiah semata, tapi karena kita telah diajarkan bahwa laboratorium lebih beradab daripada kebun.

Inilah psikologis konflik yang saya alami setiap hari. Satu sisi saya tahu bahwa industri farmasi dan kedokteran modern telah melakukan kekerasan epistemik dan fisik terhadap hewan dan tumbuhan. Saya pernah membaca laporan tentang tikus laboratorium yang mati kejang-kejang demi satu krim wajah. Sisi lain, ketika wajah saya berjerawat, tangan ini tetap meraih salep dari apotek. Saya merasa hidup dalam skizofrenia moral. Dan saya yakin, banyak dari kita juga demikian.

Salah satu pengalaman paling mengganggu selama kuliah S2 adalah menyadari bahwa dosen-dosen saya yang paling vokal mengkritik neoliberalisme tetap terbang ke konferensi internasional dengan pesawat berbahan bakar fosil, menginap di hotel bintang empat, dan pulang membawa oleh-oleh dari bandara. Bukan saya menghakimi. Saya sendiri tidak lebih baik. Tapi ini menunjukkan sesuatu: kita, kelas menengah terdidik, tidak berani “menjajah kapitalis dengan tangan sendiri” karena kita sudah terlalu nyaman dengan fasilitas yang disediakan oleh sistem yang kita kritik.

Apa arti “menjajah kapitalis”? Dalam imajinasi politik klasik, menjajah berarti menguasai alat produksi. Tapi dalam konteks hari ini, saya memaknai frasa itu sebagai mengambil kembali kendali atas hasrat kita. Kapitalisme menjajah kita bukan dengan meriam, tapi dengan membentuk apa yang kita inginkan. Kita tidak bisa “menjajah” balik karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Yang kita tahu hanyalah apa yang diiklankan.

Mengapa kaum pekerja, mahasiswa, dosen, dan kaum menengah takut? Bukan karena mereka bodoh. Mereka takut karena ketakutan kapitalis modern adalah ketakutan akan eksklusi dari kenyamanan. Coba bayangkan, jika kita memutuskan untuk tidak lagi membeli produk dari perusahaan yang melakukan uji coba pada hewan, tidak lagi naik kendaraan pribadi, tidak lagi makan di restoran cepat saji—seberapa besar perubahan dalam hidup kita? Dan pertanyaan yang lebih penting: apakah kita sanggup bertahan dengan perubahan itu ketika semua teman dan kolega kita tetap menikmati kemudahan?

Inilah yang oleh  filsuf Korea Selatan Byung-Chul Han menyebutnya sebagai masyarakat kelelahan. Kita lelah karena kita terus-menerus mengejar target yang bukan target kita sendiri. Kita takut pada “bunyi perut” dalam arti seluas-luasnya: bukan hanya lapar, tapi juga takut dianggap miskin, takut dianggap ketinggalan, takut kehilangan status sosial. Keadilan terasa abstrak, sementara perut—yang sudah dibentuk oleh industri makanan untuk menginginkan glukosa dan lemak—selalu berbunyi lebih keras.

Kita dapat mengakses penelitian ilmiah yang menunjukan jutaan hewan setiap tahun mati dalam uji laboratorium untuk produk yang sebagian besar bersifat non-esensial—pelembab, obat flu, vitamin tambahan. Aturan negara yang “ketat” justru menjadi tameng. Negara mengatur bahwa uji coba pada hewan harus dilakukan dengan “standar kesejahteraan hewan”. Tapi apakah standar itu menghilangkan kekerasan? rasanya tidak, yang muncul hanya membungkusnya dengan bahasa birokrasi.

Saya ingin mengajak kita memikirkan ini secara radikal. Kenyamanan tempat duduk di ruang kuliah, di rumah sakit, di kereta eksekutif—semuanya memiliki jejak darah makhluk non-manusia. Bukan hanya karena kursi itu mungkin terbuat dari kulit atau kayu dari hutan yang dibuka, tetapi karena sistem kesehatan dan kenyamanan modern dibangun di atas logika bahwa manusia berhak mengorbankan spesies lain demi kepentingannya. Kita menyebutnya “hak hewani” atau “hak tumbuhani” dengan nada sinis, padahal yang terjadi adalah pencabutan sistematis atas hak hidup mereka.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita harus kembali ke zaman prasejarah atau menolak semua obat. Tapi saya mengatakan bahwa kita perlu berhenti berpura-pura bahwa kenyamanan kita bersih secara moral. Tidak ada yang gratis. Bangku laboratorium yang empuk itu adalah bangku yang didirikan di atas kuburan bisu. Dan negara, dengan peraturan ketatnya, adalah penanda tangan sah atas kematian tersebut. Ini bukan sekadar kritik animal studie biasa. Ini adalah kritik terhadap biopolitik ala Foucault yang berwujud kolonial. Sama seperti penjajah dulu menganggap pribumi sebagai sub-manusia, kini manusia modern menganggap hewan dan tumbuhan sebagai sub-kehidupan. Pola pikirnya sama: “Yang lain” boleh dikorbankan demi kenyamanan “kita – saya dan anda”.

Saya pernah, beberapa kali, naik pesawat ke Ambon dengan tarif yang setara dengan gaji bulanan seorang buruh pabrik (bahkan lebih). Kenyamanan yang ditawarkan? AC dingin, kursi reclining, dan karyawan berseragam yang menjual kopi dengan harga tiga kali lipat dari kedai biasa. Saya duduk diam, menyaksikan mereka yang “berjualan di atas harga tiket mahal”—para karyawan yang juga terjajah oleh sistem upah yang membuat mereka harus bekerja dengan gaji fantastis sekaligus terasing dari kehidupan mereka sendiri. Ini adalah ironi berlapis. Kapitalisme menjanjikan kenyamanan, tapi kenyamanan itu hanya bisa dinikmati dengan membayar harga yang membuat orang lain tidak nyaman. Dan bahkan yang membayar pun tidak benar-benar nyaman, karena mereka sadar (atau tidak sadar) bahwa mereka sedang berpartisipasi dalam perlombaan tender dan pasar yang tidak pernah berakhir. Kita terjajah oleh kapitalis, dan kapitalis juga saling menjajah satu sama lain. Tidak ada yang benar-benar bebas.

Saya teringat pada Guy Debord dan Masyarakat Spektakel. Debord bilang, dalam masyarakat modern, hubungan sosial telah digantikan oleh citra. Kita tidak lagi berhubungan dengan sesama manusia, tapi dengan citra komoditas. Saya setuju, tapi saya ingin menambahkan: dalam masyarakat konsumerisme Indonesia pascakolonial, spektakel itu memiliki rasa manis. Glukosa kapitalis tebal, dan garis miring pada makanan enak adalah peta menuju kecanduan. Kita tidak hanya melihat citra, kita juga merasakannya di lidah. Dan rasa itu membuat kita lupa bahwa kita sedang diperbudak.

Saya ingin membuat tesis asal-asalan tentang Perang Dunia II. “Perang Dunia II hadir dalam wujud konsumerisme” mungkin terdengar hiperbolik. Tapi mari sejenak kita pikirkan bersama. Perang Dunia II memobilisasi seluruh sumber daya bangsa: manusia, bahan bakar, pabrik, media. Tujuannya menghancurkan musuh. Konsumerisme global saat ini juga memobilisasi seluruh sumber daya: waktu kita, perhatian kita, uang kita, bahkan tidur kita (dengan scroll media sosial sebelum tidur). Tujuannya mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tidak pernah bisa berhenti. Dalam perang, ada korban. Dalam konsumerisme, korbannya adalah hewan laboratorium, hutan yang digusur untuk perkebunan sawit (sumber glukosa dan lemak trans), dan kelas pekerja yang tubuhnya haus karena shift kerja untuk memproduksi barang yang tidak dibutuhkan. Medan perang bukan lagi lautan Pasifik, tapi pusat perbelanjaan dan marketplace digital. Dan kita semua adalah tentara sekaligus korban. Yang paling mengerikan, kita tidak bisa mendeklarasikan gencatan senjata. Karena perang ini tidak memiliki musuh yang jelas. Musuhnya adalah hasrat kita sendiri. Dan hasrat itu terus diproduksi oleh sistem yang kita andalkan untuk bertahan hidup.

Sebagai seorang mahasiswa, dan dalam tulisan ilmiah dan non-ilmiah selalu saja ada pertanyaan: “Lalu apa solusinya?” Pertanyaan seperti ini kadang membuat saya jengkel, karena saya yang belajar filsafat bukanlah panduan praktis seperti buku resep. Tapi saya juga tidak bisa hanya bungkam – mungkin boleh sedikit omon-omon yang penting.

Saya percaya bahwa harus adanya tindakan mengakui bahwa kita tidak merdeka. Kemerdekaan 1945 adalah kemerdekaan geopolitik. Kemerdekaan dari diri sendiri, dari konsumerisme, dari logika pasar, dari kenyamanan yang dibangun di atas penderitaan makhluk lain—itu belum usai. Bahkan mungkin belum dimulai dengan sungguh-sungguh. Atas dasar pengakuan itu, kita juga hendak  membangun kesadaran paradoksal. Kita harus hidup dalam sistem yang kita kritik tanpa menjadi hipokrit, tapi juga tanpa menjadi apatis. Ini sulit. Mungkin mustahil. Tapi seperti kata Albert Camus tentang mitos Sisifus, kita harus membayangkan Sisifus bahagia meski batu terus menggelinding.

Langkah lain juga, dan ini seruan untuk para filsuf politik handal: berhenti menulis hanya untuk jurnal akademik yang dibaca tiga orang. Tulislah dengan darah. Tulislah dengan bahasa yang menggugah. Masuklah ke ruang publik dengan argumen-argumen kiri yang tidak nyaman. Karena perang melawan konsumerisme tidak akan dimenangkan dengan makalah yang terkubur di repositori universitas.

Saya hanya seorang mahasiswa. Saya belum memiliki jawaban. Tapi setidaknya, saya berani bertanya dengan cara saya sendiri, dan saya menjawab dengan kegelisahan sebagai nyawa pertanyaan-pertanyaan itu. Dan kegelisahan, dalam filsafat, adalah awal dari kebijaksanaan – kita harus bijak – di – sana.



YALE SOUTA
Yogyakarta 10/04/2026

No comments:

Post a Comment