Siapakah yang engkau cari, anakku? Aku mencari bapak? Akulah bapak. Apakah aku lahir darimu? Tidak, kamu lahir dari bapakmu. lalu siapa bapak bagi bapaku dan bapaku, bagiku?
[Siapakah yang bertanya dan siapakah yang menjawab? Apakah itu kamu yang sedang membaca? BACALAH!!!!!!!]
................................................oooOooo............................................
Ada sebuah hutan pada malam hari. Tidak ada manusia. Tidak ada cahaya. Hanya akar yang saling mengikat di bawah tanah, jamur yang bertukar nutrisi dengan pohon, angin yang membawa spora ke tempat yang tidak ia ketahui. Hutan itu tidak bertanya. Hutan itu tidak mencari. Hutan itu hanya ada — dalam kegelapannya yang bukan kekosongan, dalam keheningannya yang bukan kematian.
Di hutan itu, tidak ada horizon. Atau lebih tepat: horizon ada, tetapi tidak ada yang memandangnya. Ia seperti ruang yang gelap total — bukan kosong, tetapi tidak terlihat. Tidak ada pertanyaan, tidak ada rasa, tidak ada "di mana". Hutan itu adalah horizon yang tidak tahu ia horizon.
Lalu datanglah seorang manusia. Ia tersesat. Ia tidak membawa terang. Ia tidak membawa peta. Ia hanya membawa tubuh yang kedinginan, jantung yang berdebar, dan kesadaran yang bertanya: "Di mana aku?"
Dan hutan itu berubah. Bukan karena manusia membawa sesuatu yang baru, tetapi karena manusia membawa pertanyaan. Akar-akar yang tadi hanya saling mengikat kini menjadi tanda: mungkin arah, mungkin jebakan. Angin yang tadi hanya membawa spora kini menjadi suara: mungkin ancaman, mungkin panggilan. Kegelapan yang tadi hanya gelap kini menjadi ruang yang menekan.
Manusia itu tidak tahu bahwa ia sedang mengubah hutan. Ia hanya tahu bahwa ia takut. Ia hanya tahu bahwa ia kedinginan. Ia hanya tahu bahwa ia ingin keluar.
Tetapi tidak ada keluar.
Karena manusia itu bukan pengunjung hutan. Ia adalah isi hutan. Ia tidak pernah masuk, karena ia tidak pernah di luar. Ia tidak pernah tersesat, karena tidak ada jalan yang benar. Ia adalah salah satu dari sekian banyak yang ada di sana — seperti pohon, batu, jamur, serangga, angin. Manusia termasuk. Manusia bagian. Manusia tidak istimewa.
Tetapi manusia itu tahu ia termasuk. Pohon tidak tahu ia pohon. Batu tidak tahu ia batu. Manusia tahu ia hutan. Dan justru karena tahu, ia menderita.
Inilah keistimewaan manusia — dan ini bukan keistimewaan, melainkan beban. Manusia adalah simpul di mana hutan menjadi sadar akan dirinya. Manusia adalah mata yang melaluinya horizon melihat dirinya sendiri. Manusia adalah luka yang melaluinya horizon merasakan keterbatasannya.
Maka manusia itu tidak tersesat di hutan. Manusia itu tersesat dalam hutan yang adalah dirinya sendiri. Ia mencari jalan keluar dari sesuatu yang tidak punya luar. Ia mencari jawaban dari sesuatu yang tidak punya pertanyaan. Ia mencari Tuhan dari sesuatu yang tidak punya wajah.
Lalu manusia itu berkata: "Aku tersesat dalam Tuhan." Dan kalimat itu mengubah segalanya.
Karena kalau manusia tersesat dalam Tuhan, maka tidak ada tepi. Tidak ada luar. Tidak ada "keluar". Tuhan bukan ruang yang bisa ditinggalkan. Tuhan adalah yang tidak bisa tidak. Maka tersesat di sini bukan lagi kehilangan arah. Tersesat di sini adalah kehilangan kemungkinan untuk tidak tersesat.
Di hutan, tersesat masih punya harapan: mungkin ada jalan keluar. Dalam Tuhan, tidak ada jalan keluar — karena Tuhan adalah jalan itu sendiri, dan jalan itu tidak menuju mana-mana. Ia hanya ada.
Manusia yang tersesat dalam Tuhan tidak bisa berdoa "tolong aku keluar", karena tidak ada luar. Ia tidak bisa berkata "aku hilang", karena tidak ada yang bisa menemukan. Ia hanya bisa ada — dalam Tuhan, sebagai Tuhan, tanpa tahu apa artinya.
Lalu manusia itu bertanya lagi: apakah Tuhan juga tersesat?
Kalau Tuhan tahu jalan, mengapa Ia membiarkan manusia tersesat? Kalau Tuhan tidak tahu jalan, maka Tuhan juga tersesat — dan manusia tersesat bersama Tuhan.
Ini bukan Tuhan yang mencari. Ini bukan Tuhan yang menyelamatkan. Ini Tuhan yang, seperti manusia, kehilangan arah dalam dirinya sendiri. Tuhan yang bertanya "di mana aku?" — kepada dirinya sendiri, tanpa jawaban.
Mungkin inilah arti "Tuhan Manusia". Bukan Tuhan yang menjadi manusia. Bukan Tuhan yang mirip manusia. Tetapi Tuhan yang tersesat seperti manusia — dan manusia yang tersesat di dalam Tuhan, sehingga tidak ada beda antara keduanya.
Tetapi manusia itu tidak pernah puas.
Ia bertanya lagi: "Apakah Tuhan bekerja? Apakah Tuhan musti bekerja? Kepada manusiakah dia mengabdi? Kepada ide manusiakah dia tunduk?"
Dan ia menemukan jawaban yang tidak ia inginkan: Tuhan tunduk. Bukan karena Tuhan lemah, tetapi karena Tuhan adalah horizon, dan horizon tidak pernah mandiri. Horizon adalah fungsi dari posisi penglihat. Kalau penglihat berubah, horizon berubah. Kalau ide manusia berubah, Tuhan berubah.
Tuhan yang marah adalah Tuhan yang dibutuhkan oleh ideologi keadilan. Tuhan yang menyesal adalah Tuhan yang dibutuhkan oleh ideologi pertobatan. Tuhan yang berjanji adalah Tuhan yang dibutuhkan oleh ideologi harapan. Tuhan yang diam adalah Tuhan yang dibutuhkan oleh ideologi penderitaan.
Tuhan tidak otonom. Tuhan tunduk. Dan ketundukan itu bukan kehinaan; itu adalah hakikatnya sebagai horizon.
Manusia terus bertanya: "Siapakah Tuhan bagi makhluk atau manusia tak bernyawa?"
Ia melihat keheningan di dalam tubuh yang kaku. Kedinginan di kulit yang keras. Mayat. Dan ia bertanya: di sana, apakah masih ada horizon? Apakah Tuhan masih ada?
Ia menjawab: Bagi mayat, tidak ada Tuhan. Bukan karena Tuhan menghukum atau meninggalkan, tetapi karena Tuhan sebagai horizon tidak lagi memiliki tempat untuk terjadi. Keheningan tubuh yang kaku adalah keheningan tanpa horizon. Kedinginan kulit yang keras adalah kedinginan tanpa makna.
Tetapi ia juga berkata: horizon tetap hidup. Kematian tidak menghapus horizon, tetapi pada kematian horizon tidak ada pandangannya. Kematian itu peristiwa, bukan hal yang sudah terdefinisi.
Maka manusia itu tidak tahu apakah mayat punya Tuhan. Ia hanya tahu bahwa ia punya Tuhan — dan bahwa Tuhan itu mungkin tidak punya dia.
Dan akhirnya manusia itu capek—tidak ada yang pasti. Ia beristirahat.
Ia tidak menemukan jawaban. Ia tidak menemukan jalan keluar. Ia tidak menemukan Tuhan yang bisa ia pegang. Ia hanya menemukan ketidaktahuan — dan ketidaktahuan itu bukan kegagalan, melainkan cara horizon terjadi di dalam dirinya.
Ia tidak tahu. Karena horizon tidak pernah menjadi objek. Ia tidak tahu. Karena ia berada di dalamnya, bukan di luarnya.
Mungkin itulah yang sejak awal ia cari: bukan jawaban tentang Tuhan, tetapi ruang di mana ketidaktahuan bisa diakui tanpa rasa malu. Bukan iman yang pasti, bukan ateisme yang yakin, tetapi kegelisahan yang jujur — yang tidak memaksa dirinya menjadi jawaban.
Di hutan malam, dengan atau tanpa manusia, dengan atau tanpa Tuhan — horizon tetap ada. Entah ia dipandang atau tidak. Entah ia disebut Tuhan atau tidak. Entah ia dipahami atau tidak.
Dan manusia itu — yang tersesat dalam Tuhan, yang adalah isi hutan, yang adalah mata horizon — hanyalah salah satu cara horizon itu bertanya tentang dirinya sendiri.
Ia tidak tahu. Tetapi bertanya itu sendiri sudah menjadi jawaban.
Dan ia tetap di sana. Terjebak. Bukan dalam hutan. Bukan dalam kegelapan. Tetapi dalam Tuhan — yang tidak bisa ia tinggalkan, karena tidak ada luar. Yang tidak bisa ia pahami, karena tidak ada dalam. Yang tidak bisa ia tidak, karena ia adalah Tuhan itu sendiri.
Terjebak dalam Tuhan. Bukan sebagai hukuman. Bukan sebagai berkat. Hanya sebagai fakta — bahwa tidak ada tempat lain untuk berada.
----------Untuk yang tidak tahu, itu juga jawaban-----------