Mari membaca dengan sedikit sadar agar “ada” lebih banyak sadar-sadar lain – hidupilah ruang sadar karena sadar itu ananta....
Manusia, sejak ia sadar akan dirinya, tidak pernah benar-benar sunyi dari kegelisahan akan yang transenden. Keheningan malam, gemuruh ombak, cantiknya sunset/sunrise, salju, aurora, atau megahnya gunung selalu membangkitkan perasaan kekaguman akan sesuatu yang misteri, sesuatu yang oleh Rudolf Otto disebut sebagai mysterium tremendum et fascinans—misteri yang menggentarkan sekaligus memikat. Ini adalah pengalaman religius mentah, yang oleh Alvin Plantinga dinamai sensus divinitatis, rasa akan ketuhanan yang muncul spontan, sebelum penalaran atau doktrin ikut campur. Namun, pertnyaan paling fundamental yang jarang diajukan adalah: Apakah yang sesungguhnya dialami manusia ketika ia merasa ‘tersentuh oleh Yang Transenden’ sebelum ia menamakannya?
Selama ribuan tahun, narasi tentang Yang Transenden nyaris dimonopoli oleh bahasa definisi dan klaim teologis yang mengikat. Monoteisme Abrahamik tidak hanya mendikte apa yang harus dipercaya tentang Yang Transenden dari kehidpan manusia di sungai-sungai kuno (Eufrat, Tigirs dan Nil), tetapi juga bagaimana pengalaman religius yang sah seharusnya terstruktur. Yang Transenden didefinisikan sebagai Tuhan, Yang Ilahi – a being—satu entitas dengan atribut kesempurnaan maksimal. Di sinilah letak kekeliruan mendasar. Secara etimologis, definisi (definire) berarti memberi batas. Hanya yang terbatas yang dapat dibatasi. Dengan mendefinisikan Tuhan, monoteisme secara tidak sadar telah mengakui keterbatasan-Nya. Mereka menciptakan ‘berhala intelektual’—representasi terbatas yang kemudian disembah seolah-olah representasi itu adalah Yang Tak Terbatas itu sendiri. Ironisnya, ini dilakukan atas nama anti-penyembahan berhala.
Untuk keluar dari jebakan ini, saya hendak mengusulkan sebuah langkah mundur, kembali ke pengalaman itu sendiri, sebelum ia dibungkus oleh bahasa, ritual, dan klaim kebenaran. Dengan menggunakan fenomenologi Edmund Husserl—khususnya epoché, yaitu pengurungan sementara semua asumsi tentang sifat Yang Transenden—kita tidak lagi bertanya apakah Yang Transenden itu satu atau banyak, personal atau impersonal. Kita hanya bertanya: apa yang dialami? Pendekatan ini membebaskan analisis dari belenggu teologi dogmatis. Para pelopor fenomenologi agama seperti Rudolf Otto dan Gerardus van der Leeuw telah menunjukkan bahwa pengalaman akan Yang Transenden memiliki struktur unik yang tidak dapat direduksi ke dalam kategori etis atau rasional. Yang penting bukanlah objeknya, melainkan pengalaman bahwa sesuatu yang biasa tiba-tiba menjadi luar biasa (hierophany).
Melalui lensa epoché, kita dapat menelusuri manifestasi pengalaman religius tanpa objek dalam tiga tradisi yang secara eksplisit melampaui bahasa teistik. Mistisisme Ibn ‘Arabi, ajaran Meister Eckhart, dan filsafat Buddhisme Madhyamaka. Ibn Arabi berbicara tentang wahdat al-wujud—kesatuan wujud di mana Yang Transenden adalah al-ghayb (yang tak terjangkau) yang tidak dapat diobjekkan. Eckhart berdoa kepada Tuhan agar dibebaskan dari "tuhan"—artinya, dari representasi teologis yang membatasi. Dan Nagarjuna mengajarkan śūnyatā (kekosongan) sebagai kekosongan itu sendiri, yang membungkam segala bentuk penunjukan. Ketiganya, dengan bahasa yang berbeda, menunjuk pada realitas yang sama. Pengalaman puncak tentang Yang Transenden selalu melampaui definisi, hanya dapat diketahui melalui partisipasi dan pelepasan, bukan melalui analisis representasional.
Lantas kemudian, apa yang terjadi ketika pengalaman mentah yang cair ini berhadapan dengan monoteisme sebagai sistem definisi yang kaku? Sepanjang sejarah, monoteisme Abrahamik mengklaim dirinya sebagai bentuk tertinggi hubungan manusia dengan Yang Transenden. Klaim ini didasarkan pada asumsi bahwa definisi tentang Yang Transenden (yang mereka sebut “Tuhan”) adalah wahyu eksklusif yang diberikan kepada komunitas tertentu. Namun, setelah kita melihat bahwa akar semua religiusitas justru melampaui definisi, klaim monoteistik kehilangan fondasinya. Jan Assmann dalam The Price of Monotheism menyebut fenomena ini sebagai The Mosaic Distinction—distingsi Musa: pemisahan radikal antara kebenaran dan kepalsuan, antara ‘kita’ dan ‘mereka’. Distingsi ini melahirkan logika eksklusivitas yang secara struktural intoleran.
Tiga lapis klaim eksklusivitas melekat pada monoteisme. Pertama, klaim ontologis: hanya ada satu “Tuhan” dengan atribut tertentu, sehingga dewa lain dianggap berhala atau setan. Kedua, klaim epistemik: definisi monoteistik adalah satu-satunya yang benar, melahirkan misi konversi dan polemik teologis. Ketiga, klaim sosiologis: komunitas penganut definisi benar adalah komunitas terpilih, yang melahirkan diskriminasi hukum dan bahkan genosida. Sejarah panjang Perang Salib, Inkuisisi, penganiayaan minoritas, dan kekerasan sektarian adalah sejarah kekerasan yang dilakukan atas nama definisi. Tanpa definisi, tanpa klaim bahwa definisi kitalah yang paling benar, kekerasan ini kehilangan legitimasinya. Definisi adalah ibu dari diskriminasi monoteistik—bahkan Yesus pun mati atas definisi para monoteistik.
Jalan keluarnya bukanlah dengan menciptakan definisi baru yang lebih baik, melainkan dengan membongkar proyek definisi itu sendiri. Membebaskan Yang Transenden dari definisi monoteistik berarti melakukan tiga gerakan sekaligus. Pertama, apofasis radikal: berani mengatakan apa yang “Tuhan” bukan, dan mengakui bahwa setiap klaim positif selalu tidak memadai. Bahasa tentang Yang Transenden harus menjadi bahasa paradoks yang pada akhirnya mengarah pada keheningan. Kedua, pluralisme radikal: jika tidak ada definisi yang dapat mengklaim kebenaran eksklusif, maka semua tradisi harus diperlakukan setara sebagai upaya memberi makna pada Yang Tak Terdefinisi. Dialog antaragama bergeser dari debat kebenaran ke berbagi makna. Ketiga, kembali ke pengalaman: menciptakan ruang bagi pengalaman langsung melalui meditasi, doa hening, kontemplasi—karena pengalaman inilah, dan bukan definisi, yang menjadi sumber sejati transformasi spiritual.
Tentu, jalan ini menuntut kita melepaskan kepastian yang nyaman—bahwa kita tahu siapa “Tuhan” dan apa yang Ia inginkan. Jalan yang diambil ini, menuntut kita hidup dalam ketidakpastian, dalam misteri, dalam kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak tahu. Namun justru dalam ketidaktahuan itulah kebebasan sejati ditemukan. Seperti kata Meister Eckhart, “Doa tertinggi adalah menjadi diam dan membiarkan Yang Transenden bekerja.” Atau seperti kata para mistikus Sufi, “Yang Transenden tersembunyi dalam kegelapan cahaya-Nya.” Atau seperti kata Nagarjuna, “Kekosongan itu sendiri juga kosong.” Dalam keheningan, dalam kegelapan, dalam kekosongan itu—bukan dalam definisi-definisi yang memenjarakan—kita dapat bertemu dengan Yang Transenden sebagaimana adanya: tak terdefinisi, tak terbatas, dan tak habis-habisnya untuk dimaknai. Inilah tugas spiritual abad ke-21, tidak lagi mendefinisikan Yang Tak Terdefinisi dengan lebih baik, melainkan membongkar proyek definisi itu sendiri, dan dalam ruang kosong yang tercipta, memberi makna pada Yang Tak Terdefinisi dengan keberanian, kerendahan hati, dan cinta tanpa syarat.
Cara sederhana untuk tahu diri pada keterbatasan, dan karena terbatas kita memberi ruang pada Yang Tidak Terbatas dalam perjumpaan.


