Tuesday, April 21, 2026

FENOMENOLOGI RELIGIUS SEBELUM SATU "NAMA" SAKRAL


 

Mari membaca dengan sedikit sadar agar “ada” lebih banyak sadar-sadar lain – hidupilah ruang sadar karena sadar itu ananta....

Manusia, sejak ia sadar akan dirinya, tidak pernah benar-benar sunyi dari kegelisahan akan yang transenden. Keheningan malam, gemuruh ombak, cantiknya sunset/sunrise, salju, aurora, atau megahnya gunung selalu membangkitkan perasaan kekaguman akan sesuatu yang misteri, sesuatu yang oleh Rudolf Otto disebut sebagai mysterium tremendum et fascinans—misteri yang menggentarkan sekaligus memikat. Ini adalah pengalaman religius mentah, yang oleh Alvin Plantinga dinamai sensus divinitatis, rasa akan ketuhanan yang muncul spontan, sebelum penalaran atau doktrin ikut campur. Namun, pertnyaan paling fundamental yang jarang diajukan adalah: Apakah yang sesungguhnya dialami manusia ketika ia merasa ‘tersentuh oleh Yang Transenden’ sebelum ia menamakannya?

Selama ribuan tahun, narasi tentang Yang Transenden nyaris dimonopoli oleh bahasa definisi dan klaim teologis yang mengikat. Monoteisme Abrahamik tidak hanya mendikte apa yang harus dipercaya tentang Yang Transenden dari kehidpan manusia di sungai-sungai kuno (Eufrat, Tigirs dan Nil), tetapi juga bagaimana pengalaman religius yang sah seharusnya terstruktur. Yang Transenden didefinisikan sebagai Tuhan, Yang Ilahi – a being—satu entitas dengan atribut kesempurnaan maksimal. Di sinilah letak kekeliruan mendasar. Secara etimologis, definisi (definire) berarti memberi batas. Hanya yang terbatas yang dapat dibatasi. Dengan mendefinisikan Tuhan, monoteisme secara tidak sadar telah mengakui keterbatasan-Nya. Mereka menciptakan ‘berhala intelektual’—representasi terbatas yang kemudian disembah seolah-olah representasi itu adalah Yang Tak Terbatas itu sendiri. Ironisnya, ini dilakukan atas nama anti-penyembahan berhala.

Untuk keluar dari jebakan ini, saya hendak mengusulkan sebuah langkah mundur, kembali ke pengalaman itu sendiri, sebelum ia dibungkus oleh bahasa, ritual, dan klaim kebenaran. Dengan menggunakan fenomenologi Edmund Husserl—khususnya epoché, yaitu pengurungan sementara semua asumsi tentang sifat Yang Transenden—kita  tidak lagi bertanya apakah Yang Transenden itu satu atau banyak, personal atau impersonal. Kita hanya bertanya: apa yang dialami? Pendekatan ini membebaskan analisis dari belenggu teologi dogmatis. Para pelopor fenomenologi agama seperti Rudolf Otto dan Gerardus van der Leeuw telah menunjukkan bahwa pengalaman akan Yang Transenden memiliki struktur unik yang tidak dapat direduksi ke dalam kategori etis atau rasional. Yang penting bukanlah objeknya, melainkan pengalaman bahwa sesuatu yang biasa tiba-tiba menjadi luar biasa (hierophany).

Melalui lensa epoché, kita dapat menelusuri manifestasi pengalaman religius tanpa objek dalam tiga tradisi yang secara eksplisit melampaui bahasa teistik. Mistisisme Ibn ‘Arabi, ajaran Meister Eckhart, dan filsafat Buddhisme Madhyamaka. Ibn Arabi berbicara tentang wahdat al-wujud—kesatuan wujud di mana Yang Transenden adalah al-ghayb (yang tak terjangkau) yang tidak dapat diobjekkan. Eckhart berdoa kepada Tuhan agar dibebaskan dari "tuhan"—artinya, dari representasi teologis yang membatasi. Dan Nagarjuna mengajarkan śūnyatā (kekosongan) sebagai kekosongan itu sendiri, yang membungkam segala bentuk penunjukan. Ketiganya, dengan bahasa yang berbeda, menunjuk pada realitas yang sama. Pengalaman puncak tentang Yang Transenden selalu melampaui definisi, hanya dapat diketahui melalui partisipasi dan pelepasan, bukan melalui analisis representasional.

Lantas kemudian, apa yang terjadi ketika pengalaman mentah yang cair ini berhadapan dengan monoteisme sebagai sistem definisi yang kaku? Sepanjang sejarah, monoteisme Abrahamik mengklaim dirinya sebagai bentuk tertinggi hubungan manusia dengan Yang Transenden. Klaim ini didasarkan pada asumsi bahwa definisi tentang Yang Transenden (yang mereka sebut “Tuhan”) adalah wahyu eksklusif yang diberikan kepada komunitas tertentu. Namun, setelah kita melihat bahwa akar semua religiusitas justru melampaui definisi, klaim monoteistik kehilangan fondasinya. Jan Assmann dalam The Price of Monotheism menyebut fenomena ini sebagai The Mosaic Distinction—distingsi Musa: pemisahan radikal antara kebenaran dan kepalsuan, antara ‘kita’ dan ‘mereka’. Distingsi ini melahirkan logika eksklusivitas yang secara struktural intoleran.

Tiga lapis klaim eksklusivitas melekat pada monoteisme. Pertama, klaim ontologis: hanya ada satu “Tuhan” dengan atribut tertentu, sehingga dewa lain dianggap berhala atau setan. Kedua, klaim epistemik: definisi monoteistik adalah satu-satunya yang benar, melahirkan misi konversi dan polemik teologis. Ketiga, klaim sosiologis: komunitas penganut definisi benar adalah komunitas terpilih, yang melahirkan diskriminasi hukum dan bahkan genosida. Sejarah panjang Perang Salib, Inkuisisi, penganiayaan minoritas, dan kekerasan sektarian adalah sejarah kekerasan yang dilakukan atas nama definisi. Tanpa definisi, tanpa klaim bahwa definisi kitalah yang paling benar, kekerasan ini kehilangan legitimasinya. Definisi adalah ibu dari diskriminasi monoteistik—bahkan Yesus pun mati atas definisi para monoteistik.

Jalan keluarnya bukanlah dengan menciptakan definisi baru yang lebih baik, melainkan dengan membongkar proyek definisi itu sendiri. Membebaskan Yang Transenden dari definisi monoteistik berarti melakukan tiga gerakan sekaligus. Pertama, apofasis radikal: berani mengatakan apa yang “Tuhan” bukan, dan mengakui bahwa setiap klaim positif selalu tidak memadai. Bahasa tentang Yang Transenden harus menjadi bahasa paradoks yang pada akhirnya mengarah pada keheningan. Kedua, pluralisme radikal: jika tidak ada definisi yang dapat mengklaim kebenaran eksklusif, maka semua tradisi harus diperlakukan setara sebagai upaya memberi makna pada Yang Tak Terdefinisi. Dialog antaragama bergeser dari debat kebenaran ke berbagi makna. Ketiga, kembali ke pengalaman: menciptakan ruang bagi pengalaman langsung melalui meditasi, doa hening, kontemplasi—karena pengalaman inilah, dan bukan definisi, yang menjadi sumber sejati transformasi spiritual.

Tentu, jalan ini menuntut kita melepaskan kepastian yang nyaman—bahwa kita tahu siapa “Tuhan” dan apa yang Ia inginkan. Jalan yang diambil ini, menuntut kita hidup dalam ketidakpastian, dalam misteri, dalam kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak tahu. Namun justru dalam ketidaktahuan itulah kebebasan sejati ditemukan. Seperti kata Meister Eckhart, “Doa tertinggi adalah menjadi diam dan membiarkan Yang Transenden bekerja.” Atau seperti kata para mistikus Sufi, “Yang Transenden tersembunyi dalam kegelapan cahaya-Nya.” Atau seperti kata Nagarjuna, “Kekosongan itu sendiri juga kosong.” Dalam keheningan, dalam kegelapan, dalam kekosongan itu—bukan dalam definisi-definisi yang memenjarakan—kita dapat bertemu dengan Yang Transenden sebagaimana adanya: tak terdefinisi, tak terbatas, dan tak habis-habisnya untuk dimaknai. Inilah tugas spiritual abad ke-21, tidak lagi mendefinisikan Yang Tak Terdefinisi dengan lebih baik, melainkan membongkar proyek definisi itu sendiri, dan dalam ruang kosong yang tercipta, memberi makna pada Yang Tak Terdefinisi dengan keberanian, kerendahan hati, dan cinta tanpa syarat.

Cara sederhana untuk tahu diri pada keterbatasan, dan karena terbatas kita memberi ruang pada Yang Tidak Terbatas dalam perjumpaan.



Thursday, April 9, 2026

DNA TERJAJAH DAN KEMERDEKAAN SEMU



Setengah semester belajar filsafat politik dan filsafat pancasila di tingkat pascasarjana membangkitkan naluri kegilaan saya untuk menafsir di tengah safana. Kegilaan ini lahir bukan pada saat membaca teks-teks berat seperti Being and Time atau Critique of Dialectical Reason. Ada semacam kegelisahan yang terus menggerogoti, mengapa saya, dalam beberapa kali berdiskusi tentang kapitalisme, tetap merasa tidak berdaya di depan etalase toko? Mengapa tiket pesawat ke Ambon yang mahal tetap saya beli sambil menggerutu? Mengapa ketika dosen saya berbicara tentang dekolonisasi, pikiran saya malah melayang ke promo belanja online?

Tulisan ngawur ini bukanlah makalah akademik yang rapi dengan footnote dan daftar pustaka. Ini hanyalah kegelisahan pribadi yang sedang bergulat dengan pertanyaan: apakah kemerdekaan Indonesia hanya sebuah lelucon sejarah, jika kesadaran kita masih hidup dalam penjajahan yang baru—penjajahan oleh hasrat konsumtif, oleh kenyamanan berbiaya tinggi, dan oleh ketakutan eksistensial akan kemiskinan?

Saya hendak menguraikan beberapa argument yang bodoh dan kedengaran tak masuk akal. Namun bukankah kita hidup dalam semua hal terlihat gila di luar ke-akal-an kita? Setidaknya ketidakakalan argument saya ini lahirkan dari akal. 

Frantz Fanon pernah menulis bahwa penjajahan tidak pernah sekadar masalah ekonomi atau militer. Ia merusak struktur kesadaran. Orang yang terjajah menginternalisasi pandangan penjajah tentang dirinya: malas, tidak rasional, boros, dan butuh dituntun. Fanon menyebut ini sebagai inferioritas kultural. Tapi Fanon meninggal di tahun 1961, sebelum kapitalisme konsumsi menjadi agama global. Jika ia hidup hari ini, ia akan melihat bahwa “DNA terjajah” yang ia maksud bukan lagi warisan kolonial Belanda semata, melainkan warisan yang terus diperbaharui oleh iklan, algoritma, dan industri kesehatan.

Ketika saya mengatakan “DNA terjajah”, tentu ini bukan fakta biologi. Ini adalah metafora untuk kebiasaan batin yang begitu mengendap hingga terasa seperti alamiah. Kita terbiasa menginginkan barang bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan zaman. Kita terbiasa memuja kenyamanan bukan karena itu baik, tapi karena ketidaknyamanan diidentikkan dengan kemiskinan. Kita terbiasa memilih obat kimiawi dibanding ramuan tradisional bukan karena bukti ilmiah semata, tapi karena kita telah diajarkan bahwa laboratorium lebih beradab daripada kebun.

Inilah psikologis konflik yang saya alami setiap hari. Satu sisi saya tahu bahwa industri farmasi dan kedokteran modern telah melakukan kekerasan epistemik dan fisik terhadap hewan dan tumbuhan. Saya pernah membaca laporan tentang tikus laboratorium yang mati kejang-kejang demi satu krim wajah. Sisi lain, ketika wajah saya berjerawat, tangan ini tetap meraih salep dari apotek. Saya merasa hidup dalam skizofrenia moral. Dan saya yakin, banyak dari kita juga demikian.

Salah satu pengalaman paling mengganggu selama kuliah S2 adalah menyadari bahwa dosen-dosen saya yang paling vokal mengkritik neoliberalisme tetap terbang ke konferensi internasional dengan pesawat berbahan bakar fosil, menginap di hotel bintang empat, dan pulang membawa oleh-oleh dari bandara. Bukan saya menghakimi. Saya sendiri tidak lebih baik. Tapi ini menunjukkan sesuatu: kita, kelas menengah terdidik, tidak berani “menjajah kapitalis dengan tangan sendiri” karena kita sudah terlalu nyaman dengan fasilitas yang disediakan oleh sistem yang kita kritik.

Apa arti “menjajah kapitalis”? Dalam imajinasi politik klasik, menjajah berarti menguasai alat produksi. Tapi dalam konteks hari ini, saya memaknai frasa itu sebagai mengambil kembali kendali atas hasrat kita. Kapitalisme menjajah kita bukan dengan meriam, tapi dengan membentuk apa yang kita inginkan. Kita tidak bisa “menjajah” balik karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Yang kita tahu hanyalah apa yang diiklankan.

Mengapa kaum pekerja, mahasiswa, dosen, dan kaum menengah takut? Bukan karena mereka bodoh. Mereka takut karena ketakutan kapitalis modern adalah ketakutan akan eksklusi dari kenyamanan. Coba bayangkan, jika kita memutuskan untuk tidak lagi membeli produk dari perusahaan yang melakukan uji coba pada hewan, tidak lagi naik kendaraan pribadi, tidak lagi makan di restoran cepat saji—seberapa besar perubahan dalam hidup kita? Dan pertanyaan yang lebih penting: apakah kita sanggup bertahan dengan perubahan itu ketika semua teman dan kolega kita tetap menikmati kemudahan?

Inilah yang oleh  filsuf Korea Selatan Byung-Chul Han menyebutnya sebagai masyarakat kelelahan. Kita lelah karena kita terus-menerus mengejar target yang bukan target kita sendiri. Kita takut pada “bunyi perut” dalam arti seluas-luasnya: bukan hanya lapar, tapi juga takut dianggap miskin, takut dianggap ketinggalan, takut kehilangan status sosial. Keadilan terasa abstrak, sementara perut—yang sudah dibentuk oleh industri makanan untuk menginginkan glukosa dan lemak—selalu berbunyi lebih keras.

Kita dapat mengakses penelitian ilmiah yang menunjukan jutaan hewan setiap tahun mati dalam uji laboratorium untuk produk yang sebagian besar bersifat non-esensial—pelembab, obat flu, vitamin tambahan. Aturan negara yang “ketat” justru menjadi tameng. Negara mengatur bahwa uji coba pada hewan harus dilakukan dengan “standar kesejahteraan hewan”. Tapi apakah standar itu menghilangkan kekerasan? rasanya tidak, yang muncul hanya membungkusnya dengan bahasa birokrasi.

Saya ingin mengajak kita memikirkan ini secara radikal. Kenyamanan tempat duduk di ruang kuliah, di rumah sakit, di kereta eksekutif—semuanya memiliki jejak darah makhluk non-manusia. Bukan hanya karena kursi itu mungkin terbuat dari kulit atau kayu dari hutan yang dibuka, tetapi karena sistem kesehatan dan kenyamanan modern dibangun di atas logika bahwa manusia berhak mengorbankan spesies lain demi kepentingannya. Kita menyebutnya “hak hewani” atau “hak tumbuhani” dengan nada sinis, padahal yang terjadi adalah pencabutan sistematis atas hak hidup mereka.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita harus kembali ke zaman prasejarah atau menolak semua obat. Tapi saya mengatakan bahwa kita perlu berhenti berpura-pura bahwa kenyamanan kita bersih secara moral. Tidak ada yang gratis. Bangku laboratorium yang empuk itu adalah bangku yang didirikan di atas kuburan bisu. Dan negara, dengan peraturan ketatnya, adalah penanda tangan sah atas kematian tersebut. Ini bukan sekadar kritik animal studie biasa. Ini adalah kritik terhadap biopolitik ala Foucault yang berwujud kolonial. Sama seperti penjajah dulu menganggap pribumi sebagai sub-manusia, kini manusia modern menganggap hewan dan tumbuhan sebagai sub-kehidupan. Pola pikirnya sama: “Yang lain” boleh dikorbankan demi kenyamanan “kita – saya dan anda”.

Saya pernah, beberapa kali, naik pesawat ke Ambon dengan tarif yang setara dengan gaji bulanan seorang buruh pabrik (bahkan lebih). Kenyamanan yang ditawarkan? AC dingin, kursi reclining, dan karyawan berseragam yang menjual kopi dengan harga tiga kali lipat dari kedai biasa. Saya duduk diam, menyaksikan mereka yang “berjualan di atas harga tiket mahal”—para karyawan yang juga terjajah oleh sistem upah yang membuat mereka harus bekerja dengan gaji fantastis sekaligus terasing dari kehidupan mereka sendiri. Ini adalah ironi berlapis. Kapitalisme menjanjikan kenyamanan, tapi kenyamanan itu hanya bisa dinikmati dengan membayar harga yang membuat orang lain tidak nyaman. Dan bahkan yang membayar pun tidak benar-benar nyaman, karena mereka sadar (atau tidak sadar) bahwa mereka sedang berpartisipasi dalam perlombaan tender dan pasar yang tidak pernah berakhir. Kita terjajah oleh kapitalis, dan kapitalis juga saling menjajah satu sama lain. Tidak ada yang benar-benar bebas.

Saya teringat pada Guy Debord dan Masyarakat Spektakel. Debord bilang, dalam masyarakat modern, hubungan sosial telah digantikan oleh citra. Kita tidak lagi berhubungan dengan sesama manusia, tapi dengan citra komoditas. Saya setuju, tapi saya ingin menambahkan: dalam masyarakat konsumerisme Indonesia pascakolonial, spektakel itu memiliki rasa manis. Glukosa kapitalis tebal, dan garis miring pada makanan enak adalah peta menuju kecanduan. Kita tidak hanya melihat citra, kita juga merasakannya di lidah. Dan rasa itu membuat kita lupa bahwa kita sedang diperbudak.

Saya ingin membuat tesis asal-asalan tentang Perang Dunia II. “Perang Dunia II hadir dalam wujud konsumerisme” mungkin terdengar hiperbolik. Tapi mari sejenak kita pikirkan bersama. Perang Dunia II memobilisasi seluruh sumber daya bangsa: manusia, bahan bakar, pabrik, media. Tujuannya menghancurkan musuh. Konsumerisme global saat ini juga memobilisasi seluruh sumber daya: waktu kita, perhatian kita, uang kita, bahkan tidur kita (dengan scroll media sosial sebelum tidur). Tujuannya mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tidak pernah bisa berhenti. Dalam perang, ada korban. Dalam konsumerisme, korbannya adalah hewan laboratorium, hutan yang digusur untuk perkebunan sawit (sumber glukosa dan lemak trans), dan kelas pekerja yang tubuhnya haus karena shift kerja untuk memproduksi barang yang tidak dibutuhkan. Medan perang bukan lagi lautan Pasifik, tapi pusat perbelanjaan dan marketplace digital. Dan kita semua adalah tentara sekaligus korban. Yang paling mengerikan, kita tidak bisa mendeklarasikan gencatan senjata. Karena perang ini tidak memiliki musuh yang jelas. Musuhnya adalah hasrat kita sendiri. Dan hasrat itu terus diproduksi oleh sistem yang kita andalkan untuk bertahan hidup.

Sebagai seorang mahasiswa, dan dalam tulisan ilmiah dan non-ilmiah selalu saja ada pertanyaan: “Lalu apa solusinya?” Pertanyaan seperti ini kadang membuat saya jengkel, karena saya yang belajar filsafat bukanlah panduan praktis seperti buku resep. Tapi saya juga tidak bisa hanya bungkam – mungkin boleh sedikit omon-omon yang penting.

Saya percaya bahwa harus adanya tindakan mengakui bahwa kita tidak merdeka. Kemerdekaan 1945 adalah kemerdekaan geopolitik. Kemerdekaan dari diri sendiri, dari konsumerisme, dari logika pasar, dari kenyamanan yang dibangun di atas penderitaan makhluk lain—itu belum usai. Bahkan mungkin belum dimulai dengan sungguh-sungguh. Atas dasar pengakuan itu, kita juga hendak  membangun kesadaran paradoksal. Kita harus hidup dalam sistem yang kita kritik tanpa menjadi hipokrit, tapi juga tanpa menjadi apatis. Ini sulit. Mungkin mustahil. Tapi seperti kata Albert Camus tentang mitos Sisifus, kita harus membayangkan Sisifus bahagia meski batu terus menggelinding.

Langkah lain juga, dan ini seruan untuk para filsuf politik handal: berhenti menulis hanya untuk jurnal akademik yang dibaca tiga orang. Tulislah dengan darah. Tulislah dengan bahasa yang menggugah. Masuklah ke ruang publik dengan argumen-argumen kiri yang tidak nyaman. Karena perang melawan konsumerisme tidak akan dimenangkan dengan makalah yang terkubur di repositori universitas.

Saya hanya seorang mahasiswa. Saya belum memiliki jawaban. Tapi setidaknya, saya berani bertanya dengan cara saya sendiri, dan saya menjawab dengan kegelisahan sebagai nyawa pertanyaan-pertanyaan itu. Dan kegelisahan, dalam filsafat, adalah awal dari kebijaksanaan – kita harus bijak – di – sana.



YALE SOUTA
Yogyakarta 10/04/2026

Thursday, April 2, 2026

Tujuh Situasi Manusia di Kaki Salib




Bacalah dalam kesadaran bahwa iman kita sudah dewasa atau paling tidak kita sudah dewasa dalam beriman.....

Kita memasuki masa-masa haru nan indah dalam tradisi beragama, bahwa Tuhan itu mati, mati untuk sebuah tindakan penebusan dosa. Tapi Apakah itu dosa? Apakah itu penebusan? Representasi bahasa selalu menyimpan psikologi yang tidak bermakna. Pelarian yang tak berujung. Ide ini terasa gila, dan kontroversi secara dogmatik, tetapi apa sebenarnya Iman itu sendiri?. Pegangankah? Atau memegang tangga menuju sesuatu yang jauh – dengan begitu kapan kita sampai pada realitas yang dibayangkan? 

Saya ingin memulai dengan sebuah tesis yang mungkin terdengar agak tidak waras dalam kacamata dogmatik: dosa, dalam pengertian yang paling sederhana dan paling membumi, bukanlah kejahatan moral yang spektakuler. Bukan pembunuhan, bukan perzinahan, bukan korupsi. Itu semua hanya gejala. Dosa, pada akarnya, adalah pelarian dari realitas. Sebuah gerak refleks yang begitu halus dan begitu manusiawi: ketika realitas terasa terlalu berat, terlalu telanjang, terlalu tanpa makna, kita melompat ke dalam kesibukan, ke dalam kesalehan, ke dalam dosa-dosa kecil yang membuat kita merasa masih mengendalikan sesuatu. Kita menciptakan hiruk-pikuk agar tidak perlu diam menghadapi fakta bahwa kita terlempar ke dunia yang tidak pernah meminta persetujuan kita.

Dan di sinilah kejutan dari kayu salib. Yesus tidak sedang mengajarkan teologi tentang dosa. Dia sedang memperlihatkan apa yang terjadi ketika seseorang berhenti melarikan diri. Tujuh perkataannya bukanlah khotbah, melainkan tujuh jendela yang dibuka satu per satu ke ruang paling belakang eksistensi manusia. Mari kita masuk ke dalamnya dengan perlahan, tanpa takut kehilangan jalan pulang.

Perkataan pertama, "Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Ini bukan sekadar pengampunan yang mulia. Ini adalah pengakuan epistemologis yang menghancurkan. Para algojo, para imam, Petrus yang menyangkal, Yudas yang mengkhianati, bahkan para murid yang melarikan diri—mereka semua sedang berlari dari realitas bahwa mereka sedang membunuh Tuhan. Mereka sibuk dengan peran masing-masing: ada yang sibuk menegakkan hukum, ada yang sibuk bertahan hidup, ada yang sibuk dengan rasa bersalah. Kesibukan itu adalah dosa. Dan Yesus membongkarnya dengan mengatakan: mereka tidak tahu. Bukan karena bodoh, tetapi karena mereka sengaja tidak mau tahu. Pelarian dari realitas selalu dibungkus dengan ketidaktahuan yang dipilih.

Perkataan kedua, "Sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Di sini, Yesus sedang menghancurkan eskatologi yang melarikan diri. Orang Farisi dan para imam waktu itu membayangkan Firdaus sebagai tempat di masa depan, setelah kematian, sebagai hadiah bagi yang saleh. Tapi Yesus mengucapkannya hari ini, di kayu salib, kepada seorang penjahat yang tidak punya satu pun catatan kesalehan. Apa yang dia tunjukkan? Bahwa Firdaus bukanlah pelarian ke surga. Firdaus adalah kualitas kehadiran ketika dua manusia yang sama-sama terlempar mengakui bahwa mereka tidak punya apa-apa selain realitas telanjang di hadapan kematian. Penjahat itu tidak lari. Dia berkata: "Ingatlah aku." Itu bukan permintaan yang rumit. Itu adalah penerimaan bahwa dirinya sedang sekarat, dan hanya itu yang nyata. Teleologi manusia agamis, dengan demikian, bukanlah mencapai surga setelah mati, melainkan mampu hadir secara utuh di dalam realitas bahkan ketika realitas itu adalah penderitaan.

Perkataan ketiga, "Ibu, inilah anakmu!" Ini adalah momen ketika semua teologi tentang keluarga kudus runtuh. Yesus tidak sedang membangun institusi kekeluargaan yang sakral. Dia sedang melepaskan. Dia melepaskan ikatan biologis dengan Maria, dan melepaskan juga ikatan murid dengan Yohanes, dan menyerahkan mereka satu sama lain dalam sebuah tindakan yang absurd. Mengapa absurd? Karena di saat tubuhnya hancur, dia masih peduli pada hal sekecil itu. Itulah realitas. Dosa seringkali justru tampil dalam bentuk kepedulian yang salah: kita peduli pada reputasi, pada doktrin, pada masa depan, sehingga kita lupa bahwa di samping kita ada seorang ibu yang menangis. Yesus menunjukkan bahwa tidak lari dari realitas berarti tetap melakukan tindakan cinta yang paling kecil dan paling tidak spektakuler, bahkan ketika segala sesuatunya berkata bahwa cinta itu tidak penting.

Perkataan keempat, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Inilah pusat dari segalanya. Inilah saat ketika Yesus tidak lagi meminjam bahasa mazmur untuk puitis. Ini adalah teriakan seorang manusia yang merasakan secara langsung apa artinya ditinggalkan oleh realitas itu sendiri. Para teolog kadang terlalu cepat menyebut ini sebagai misteri inkarnasi, bahwa Allah mengalami keterasingan dari ke-Allah-an. Tapi saya ingin membacanya dengan lebih sederhana: Yesus di sini sedang tidak melarikan diri dari rasa ditinggalkan. Dia tidak berkata, "Ah, tapi sebenarnya Bapa selalu menyertai." Dia tidak berkata, "Ini semua rencana indah." Dia berteriak, "Mengapa?" Dan teriakan itu justru adalah puncak kesucian, karena di dalamnya tidak ada pelarian sedikit pun. Dosa adalah ketika kita melarikan diri dari rasa ditinggalkan itu dengan menenangkan diri menggunakan ayat-ayat, atau dengan menyalahkan diri sendiri, atau dengan sibuk melayani agar merasa berarti. Yesus melakukan sebaliknya: dia meneriaki ketiadaan itu. Dan dalam teriakan-Nya, Dia justru hadir secara penuh.

Perkataan kelima, "Aku haus." Setelah semua drama kosmis tentang penebusan dosa, Yesus meminta air. Bukan air kehidupan, bukan metafora rohani, tetapi air sungguhan untuk tenggorokan yang kering. Ini adalah penghinaan terhadap segala bentuk spiritualisasi yang melarikan diri dari tubuh. Dosa sering kali tampil sebagai kesalehan yang melompati kebutuhan jasmani. "Ah, saya sedang berpuasa, saya tidak perlu makan." "Ah, tubuh ini hanya sementara, yang penting roh." Yesus membaliknya: di saat paling kudus dalam sejarah keselamatan, dia haus. Realitas adalah tubuh yang haus, dan tidak ada teologi yang bisa membatalkannya. Manusia agamis yang teleologi adalah manusia yang kembali ke tubuh, yang tidak malu mengakui bahwa dia haus, baik secara harfiah maupun metaforis.

Perkataan keenam, "Sudah selesai." Ini adalah kata yang paling sering disalahpahami. Banyak orang membacanya sebagai kemenangan: "Aku sudah mengalahkan dosa dan maut, misi selesai!" Tapi coba dengarkan dengan telinga yang tidak berlari dari realitas. "Sudah selesai" diucapkan oleh seseorang yang tubuhnya hancur, yang murid-muridnya kabur, yang reputasinya sebagai mesias hancur. Selesai apa? Bukan kemenangan. Selesai adalah pengakuan bahwa tidak ada yang tersisa untuk dilakukan. Ini adalah penerimaan bahwa hidup ini terbatas, bahwa cerita ini akan berhenti di sini, bahwa tidak ada babak tambahan. Dosa adalah ketidakmampuan untuk mengatakan "selesai" — kita selalu ingin menambahkan satu lagi, memperbaiki satu lagi, mengulang satu lagi. Yesus menunjukkan bahwa kebebasan sejati justru terletak pada kemampuan untuk berhenti, untuk tidak melarikan diri ke masa depan yang belum tentu ada.

Perkataan ketujuh, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Ini adalah klimaks dari keterlemparan aktif. Perhatikan: Yesus tidak berkata, "Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan dosa-dosa dunia" atau "Kuserahkan kerajaan-Ku". Dia menyerahkan nyawa-Nya — yang tidak lain adalah realitas paling privat dan paling tak terbagi. Dan dia menyerahkannya ke dalam tangan Bapa, meskipun beberapa detik sebelumnya dia berteriak bahwa Mengapa Bapa meninggalkan-Nya. Ini bukan logika. Ini adalah tindakan iman yang melampaui perasaan ditinggalkan. Dosa adalah ketika kita menyerahkan nyawa kita ke dalam tangan sesuatu yang lain: ke dalam tangan pekerjaan, ke dalam tangan pengakuan orang lain, ke dalam tangan kesibukan beragama. Yesus menyerahkan nyawanya ke dalam tangan yang tidak terlihat, yang tidak memberi jaminan, yang bahkan terasa absen. Itulah iman sebagai anti-pelarian. Iman bukan pelarian ke dalam kepastian; iman adalah keberanian untuk tetap melepas kendali ketika semua indera berkata bahwa tidak ada tangan yang menangkap.

Jadi dari drama penyaliban, apa yang hendak Yesus tunjukkan? Bukan bahwa dosa adalah pelanggaran terhadap hukum surgawi yang perlu ditebus dengan darah. Itu terlalu rumit dan terlalu jauh. Dosa, dalam tontonan di Golgota, terungkap sebagai refleks paling sederhana: lari dari realitas. Lari dari ketidaktahuan kita sendiri, lari dari kematian, lari dari tangisan ibu, lari dari rasa ditinggalkan, lari dari tubuh yang haus, lari dari kata "selesai", lari dari ketidakpastian saat melepas nyawa. Dan Yesus di kayu salib adalah manusia yang tidak lari. Bukan karena dia lebih kuat, tetapi karena dia lebih jujur.

Disinilah teleologi bagi manusia agamis. Tujuan akhir dari kehidupan beriman bukanlah mencapai surga, bukan pula mengumpulkan tindakan baik, bukan menjadi paling saleh. Tujuan akhirnya adalah mampu berdiri di dalam realitas tanpa perlu melompat keluar. Realitas itu kadang pahit, kadang sepi, kadang haus, kadang terasa ditinggalkan. Tapi justru di dalam kesetiaan untuk tetap hadir di situ — tidak lari ke dalam dosa, tidak lari ke dalam kesibukan rohani, tidak lari ke dalam doktrin yang menenangkan — di situlah manusia agamis menemukan apa yang disebut Yesus sebagai "Firdaus hari ini". Bukan tempat, tetapi kualitas kehadiran.

Saya tidak tahu apakah ini bisa disebut penebusan. Tapi saya tahu bahwa di kayu salib, Yesus tidak sedang membayar utang. Dia sedang menyingkap. Dan penyingkapan itu mengerikan sekaligus membebaskan: bahwa kita tidak perlu lari. Kita bisa, seperti dia, berkata "selesai" dan "ke dalam tangan-Mu" pada akhirnya. Itu sudah cukup. Itu sudah sempurna.

Selamat Berefleksi tentang Kematian Tuhan di Jumat Agung...... Jumat itu sangat agung, Jumat itu istana kesadaran manusia.


Apa yang dikatakan dalam kebangkitan Yesus? 

Nantikan tulisan selanjutnya.....