Thursday, April 2, 2026

Tujuh Situasi Manusia di Kaki Salib




Bacalah dalam kesadaran bahwa iman kita sudah dewasa atau paling tidak kita sudah dewasa dalam beriman.....

Kita memasuki masa-masa haru nan indah dalam tradisi beragama, bahwa Tuhan itu mati, mati untuk sebuah tindakan penebusan dosa. Tapi Apakah itu dosa? Apakah itu penebusan? Representasi bahasa selalu menyimpan psikologi yang tidak bermakna. Pelarian yang tak berujung. Ide ini terasa gila, dan kontroversi secara dogmatik, tetapi apa sebenarnya Iman itu sendiri?. Pegangankah? Atau memegang tangga menuju sesuatu yang jauh – dengan begitu kapan kita sampai pada realitas yang dibayangkan? 

Saya ingin memulai dengan sebuah tesis yang mungkin terdengar agak tidak waras dalam kacamata dogmatik: dosa, dalam pengertian yang paling sederhana dan paling membumi, bukanlah kejahatan moral yang spektakuler. Bukan pembunuhan, bukan perzinahan, bukan korupsi. Itu semua hanya gejala. Dosa, pada akarnya, adalah pelarian dari realitas. Sebuah gerak refleks yang begitu halus dan begitu manusiawi: ketika realitas terasa terlalu berat, terlalu telanjang, terlalu tanpa makna, kita melompat ke dalam kesibukan, ke dalam kesalehan, ke dalam dosa-dosa kecil yang membuat kita merasa masih mengendalikan sesuatu. Kita menciptakan hiruk-pikuk agar tidak perlu diam menghadapi fakta bahwa kita terlempar ke dunia yang tidak pernah meminta persetujuan kita.

Dan di sinilah kejutan dari kayu salib. Yesus tidak sedang mengajarkan teologi tentang dosa. Dia sedang memperlihatkan apa yang terjadi ketika seseorang berhenti melarikan diri. Tujuh perkataannya bukanlah khotbah, melainkan tujuh jendela yang dibuka satu per satu ke ruang paling belakang eksistensi manusia. Mari kita masuk ke dalamnya dengan perlahan, tanpa takut kehilangan jalan pulang.

Perkataan pertama, "Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Ini bukan sekadar pengampunan yang mulia. Ini adalah pengakuan epistemologis yang menghancurkan. Para algojo, para imam, Petrus yang menyangkal, Yudas yang mengkhianati, bahkan para murid yang melarikan diri—mereka semua sedang berlari dari realitas bahwa mereka sedang membunuh Tuhan. Mereka sibuk dengan peran masing-masing: ada yang sibuk menegakkan hukum, ada yang sibuk bertahan hidup, ada yang sibuk dengan rasa bersalah. Kesibukan itu adalah dosa. Dan Yesus membongkarnya dengan mengatakan: mereka tidak tahu. Bukan karena bodoh, tetapi karena mereka sengaja tidak mau tahu. Pelarian dari realitas selalu dibungkus dengan ketidaktahuan yang dipilih.

Perkataan kedua, "Sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Di sini, Yesus sedang menghancurkan eskatologi yang melarikan diri. Orang Farisi dan para imam waktu itu membayangkan Firdaus sebagai tempat di masa depan, setelah kematian, sebagai hadiah bagi yang saleh. Tapi Yesus mengucapkannya hari ini, di kayu salib, kepada seorang penjahat yang tidak punya satu pun catatan kesalehan. Apa yang dia tunjukkan? Bahwa Firdaus bukanlah pelarian ke surga. Firdaus adalah kualitas kehadiran ketika dua manusia yang sama-sama terlempar mengakui bahwa mereka tidak punya apa-apa selain realitas telanjang di hadapan kematian. Penjahat itu tidak lari. Dia berkata: "Ingatlah aku." Itu bukan permintaan yang rumit. Itu adalah penerimaan bahwa dirinya sedang sekarat, dan hanya itu yang nyata. Teleologi manusia agamis, dengan demikian, bukanlah mencapai surga setelah mati, melainkan mampu hadir secara utuh di dalam realitas bahkan ketika realitas itu adalah penderitaan.

Perkataan ketiga, "Ibu, inilah anakmu!" Ini adalah momen ketika semua teologi tentang keluarga kudus runtuh. Yesus tidak sedang membangun institusi kekeluargaan yang sakral. Dia sedang melepaskan. Dia melepaskan ikatan biologis dengan Maria, dan melepaskan juga ikatan murid dengan Yohanes, dan menyerahkan mereka satu sama lain dalam sebuah tindakan yang absurd. Mengapa absurd? Karena di saat tubuhnya hancur, dia masih peduli pada hal sekecil itu. Itulah realitas. Dosa seringkali justru tampil dalam bentuk kepedulian yang salah: kita peduli pada reputasi, pada doktrin, pada masa depan, sehingga kita lupa bahwa di samping kita ada seorang ibu yang menangis. Yesus menunjukkan bahwa tidak lari dari realitas berarti tetap melakukan tindakan cinta yang paling kecil dan paling tidak spektakuler, bahkan ketika segala sesuatunya berkata bahwa cinta itu tidak penting.

Perkataan keempat, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Inilah pusat dari segalanya. Inilah saat ketika Yesus tidak lagi meminjam bahasa mazmur untuk puitis. Ini adalah teriakan seorang manusia yang merasakan secara langsung apa artinya ditinggalkan oleh realitas itu sendiri. Para teolog kadang terlalu cepat menyebut ini sebagai misteri inkarnasi, bahwa Allah mengalami keterasingan dari ke-Allah-an. Tapi saya ingin membacanya dengan lebih sederhana: Yesus di sini sedang tidak melarikan diri dari rasa ditinggalkan. Dia tidak berkata, "Ah, tapi sebenarnya Bapa selalu menyertai." Dia tidak berkata, "Ini semua rencana indah." Dia berteriak, "Mengapa?" Dan teriakan itu justru adalah puncak kesucian, karena di dalamnya tidak ada pelarian sedikit pun. Dosa adalah ketika kita melarikan diri dari rasa ditinggalkan itu dengan menenangkan diri menggunakan ayat-ayat, atau dengan menyalahkan diri sendiri, atau dengan sibuk melayani agar merasa berarti. Yesus melakukan sebaliknya: dia meneriaki ketiadaan itu. Dan dalam teriakan-Nya, Dia justru hadir secara penuh.

Perkataan kelima, "Aku haus." Setelah semua drama kosmis tentang penebusan dosa, Yesus meminta air. Bukan air kehidupan, bukan metafora rohani, tetapi air sungguhan untuk tenggorokan yang kering. Ini adalah penghinaan terhadap segala bentuk spiritualisasi yang melarikan diri dari tubuh. Dosa sering kali tampil sebagai kesalehan yang melompati kebutuhan jasmani. "Ah, saya sedang berpuasa, saya tidak perlu makan." "Ah, tubuh ini hanya sementara, yang penting roh." Yesus membaliknya: di saat paling kudus dalam sejarah keselamatan, dia haus. Realitas adalah tubuh yang haus, dan tidak ada teologi yang bisa membatalkannya. Manusia agamis yang teleologi adalah manusia yang kembali ke tubuh, yang tidak malu mengakui bahwa dia haus, baik secara harfiah maupun metaforis.

Perkataan keenam, "Sudah selesai." Ini adalah kata yang paling sering disalahpahami. Banyak orang membacanya sebagai kemenangan: "Aku sudah mengalahkan dosa dan maut, misi selesai!" Tapi coba dengarkan dengan telinga yang tidak berlari dari realitas. "Sudah selesai" diucapkan oleh seseorang yang tubuhnya hancur, yang murid-muridnya kabur, yang reputasinya sebagai mesias hancur. Selesai apa? Bukan kemenangan. Selesai adalah pengakuan bahwa tidak ada yang tersisa untuk dilakukan. Ini adalah penerimaan bahwa hidup ini terbatas, bahwa cerita ini akan berhenti di sini, bahwa tidak ada babak tambahan. Dosa adalah ketidakmampuan untuk mengatakan "selesai" — kita selalu ingin menambahkan satu lagi, memperbaiki satu lagi, mengulang satu lagi. Yesus menunjukkan bahwa kebebasan sejati justru terletak pada kemampuan untuk berhenti, untuk tidak melarikan diri ke masa depan yang belum tentu ada.

Perkataan ketujuh, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Ini adalah klimaks dari keterlemparan aktif. Perhatikan: Yesus tidak berkata, "Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan dosa-dosa dunia" atau "Kuserahkan kerajaan-Ku". Dia menyerahkan nyawa-Nya — yang tidak lain adalah realitas paling privat dan paling tak terbagi. Dan dia menyerahkannya ke dalam tangan Bapa, meskipun beberapa detik sebelumnya dia berteriak bahwa Mengapa Bapa meninggalkan-Nya. Ini bukan logika. Ini adalah tindakan iman yang melampaui perasaan ditinggalkan. Dosa adalah ketika kita menyerahkan nyawa kita ke dalam tangan sesuatu yang lain: ke dalam tangan pekerjaan, ke dalam tangan pengakuan orang lain, ke dalam tangan kesibukan beragama. Yesus menyerahkan nyawanya ke dalam tangan yang tidak terlihat, yang tidak memberi jaminan, yang bahkan terasa absen. Itulah iman sebagai anti-pelarian. Iman bukan pelarian ke dalam kepastian; iman adalah keberanian untuk tetap melepas kendali ketika semua indera berkata bahwa tidak ada tangan yang menangkap.

Jadi dari drama penyaliban, apa yang hendak Yesus tunjukkan? Bukan bahwa dosa adalah pelanggaran terhadap hukum surgawi yang perlu ditebus dengan darah. Itu terlalu rumit dan terlalu jauh. Dosa, dalam tontonan di Golgota, terungkap sebagai refleks paling sederhana: lari dari realitas. Lari dari ketidaktahuan kita sendiri, lari dari kematian, lari dari tangisan ibu, lari dari rasa ditinggalkan, lari dari tubuh yang haus, lari dari kata "selesai", lari dari ketidakpastian saat melepas nyawa. Dan Yesus di kayu salib adalah manusia yang tidak lari. Bukan karena dia lebih kuat, tetapi karena dia lebih jujur.

Disinilah teleologi bagi manusia agamis. Tujuan akhir dari kehidupan beriman bukanlah mencapai surga, bukan pula mengumpulkan tindakan baik, bukan menjadi paling saleh. Tujuan akhirnya adalah mampu berdiri di dalam realitas tanpa perlu melompat keluar. Realitas itu kadang pahit, kadang sepi, kadang haus, kadang terasa ditinggalkan. Tapi justru di dalam kesetiaan untuk tetap hadir di situ — tidak lari ke dalam dosa, tidak lari ke dalam kesibukan rohani, tidak lari ke dalam doktrin yang menenangkan — di situlah manusia agamis menemukan apa yang disebut Yesus sebagai "Firdaus hari ini". Bukan tempat, tetapi kualitas kehadiran.

Saya tidak tahu apakah ini bisa disebut penebusan. Tapi saya tahu bahwa di kayu salib, Yesus tidak sedang membayar utang. Dia sedang menyingkap. Dan penyingkapan itu mengerikan sekaligus membebaskan: bahwa kita tidak perlu lari. Kita bisa, seperti dia, berkata "selesai" dan "ke dalam tangan-Mu" pada akhirnya. Itu sudah cukup. Itu sudah sempurna.

Selamat Berefleksi tentang Kematian Tuhan di Jumat Agung...... Jumat itu sangat agung, Jumat itu istana kesadaran manusia.


Apa yang dikatakan dalam kebangkitan Yesus? 

Nantikan tulisan selanjutnya..... 


No comments:

Post a Comment