Monday, August 24, 2026

Di Antara Lempeng dan Langit: Membaca Gempa di Luar Narasi Teguran Tuhan


Sabtu, 15 Agustus 2026. Ketika Presiden Republik Indonesia sedang berpidato—sebuah ritual tahunan menyongsong HUT RI ke-81—bumi di Flores, pada pagi dini hari, tiba-tiba berguncang. Tujuh magnitudo. Angka dalam dunia seismologi hanyalah data, tetapi dalam kehidupan manusia, ia menjadi takdir. Rumah-rumah retak seperti kulit tua yang kehabisan daya. Dinding-dinding roboh, menelan mimpi-mimpi yang belum sempat diucapkan. Nyawa-nyawa melayang dalam hitungan detik, seperti lilin-lilin kecil yang ditiup angin tak terlihat. Orang-orang berlarian keluar, membawa apa pun yang bisa diselamatkan—sebuah foto lama, selembar selimut, atau sekadar napas yang tersengal-sengal.

Keesokan harinya, Minggu, 16 Agustus 2026, di mimbar gereja, seorang pendeta berdiri dengan Alkitab di tangan. Suaranya bergema di antara dinding-dinding yang masih menyimpan debu ketakutan. "Gempa terjadi karena kita berdosa," katanya, "karena kita masih menyembah berhala, dan karena hidup kita jauh dari Tuhan." Kata-kata itu diucapkan dengan nada pasti, seakan-akan langit dan bumi telah menandatangani sebuah perjanjian rahasia untuk mengirim pesan moral melalui getaran tektonik. Tetapi di hadapan puing-puing rumah, di hadapan tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya, klaim itu bukan hanya terdengar sederhana—melainkan terdengar kejam. Ia seperti pedang yang tidak memotong daging, tetapi memotong harapan.

Tentu saja, secara umum manusia beragama percaya bahwa Tuhan berpotensi menegur manusia. Tradisi kenabian, kitab suci, dan khotbah-khotbah sering kali menyajikan bencana sebagai hukuman atau peringatan. Namun, di situlah letak persoalannya: jika setiap gempa dianggap teguran, maka dosa pun semakin sempit dinilai. Dosa direduksi menjadi daftar pelanggaran moral tertentu—menyembah berhala, meninggalkan ritual, atau melakukan maksiat—sementara dosa yang lebih struktural, seperti ketidakadilan, keserakahan, dan perusakan alam, justru luput dari perhatian. Lebih dari itu, klaim teguran menutup kemungkinan untuk bertanya lebih jauh: mengapa yang paling menderita justru mereka yang paling miskin, paling rentan, dan sering kali paling tidak berdaya? Apakah bayi yang tertimpa reruntuhan juga "menyembah berhala"? Apakah orang tua yang kehilangan seluruh keluarganya adalah pendosa yang lebih besar daripada mereka yang tinggal di kota yang tanahnya tidak berguncang? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung di udara, seperti asap dupa yang tidak pernah sampai ke langit.

Di sinilah kita bertemu dengan problem teodise. Teodise—usaha membela kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan di hadapan kejahatan dan penderitaan—selalu menuntut jawaban. Namun, jawabannya tidak selalu datang dari yang paling teodis, dalam arti religius-dogmatis. Justru sains telah menjawab dengan sangat baik bahwa kejahatan dan bencana sering kali berada di luar kemampuan manusia. Gempa bumi di Flores adalah fenomena alam murni. Pergerakan lempeng tektonik di wilayah pertemuan Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia yang melepaskan energi, proses geologis yang sudah berlangsung miliaran tahun sebelum manusia ada. Tidak ada unsur moral di dalamnya. Tidak ada pesan tersembunyi. Yang ada hanyalah hukum alam yang bekerja tanpa peduli siapa yang tinggal di atasnya, apa agama mereka, atau bagaimana kualitas moral mereka. Bumi tidak pernah belajar membedakan antara orang suci dan pendosa; ia hanya bergerak, bergeser, dan melepaskan apa yang harus dilepaskan.

Namun, apakah itu berarti alam tidak bermakna? Tidak juga. Alam pada dirinya adalah alam yang sunyi dari kategori moral. Ia tidak baik atau jahat, tidak menghukum, dan tidak memberi hadiah. Ia hanya ada dan terjadi menurut hukumnya sendiri. Sebaliknya, manusia tidak pernah hidup terpisah dari alam. Manusia dan alam selalu berada bersama, saling terjalin dalam satu jaring kehidupan yang halus dan rapuh. Gempa di Flores baru menjadi "bencana" jika dan hanya jika dirasakan oleh manusia yang hidup di situ. Tanpa manusia, gempa hanyalah getaran bumi, sebuah peristiwa geologis biasa yang akan berlalu tanpa saksi. Dengan manusia, gempa menjadi penderitaan, kehilangan, dan pertanyaan tentang makna. Bumi berguncang, dan tiba-tiba kita menyadari bahwa kita hanyalah tamu-tamu sementara di atas tanah yang tidak pernah benar-benar kita miliki.


Maka, jika kita menolak narasi "gempa sebagai teguran Tuhan", kita tidak sedang menolak Tuhan. Kita justru sedang menyelamatkan Tuhan dari peran yang tidak pantas—dalang di balik setiap penderitaan. Teologi yang dewasa tidak perlu memaksa Tuhan hadir sebagai penyebab dari setiap patahan bumi. Sebaliknya, ia mengakui bahwa alam memiliki otonominya sendiri, dan Tuhan hadir justru di dalam penderitaan manusia—bukan sebagai pengirim bencana, melainkan sebagai kekuatan yang menopang, menghibur, dan memanggil kita untuk solider. Tuhan tidak berdiri di belakang gempa; Ia berdiri di samping mereka yang tertimpa reruntuhan. Tuhan tidak berbisik di dalam getaran; Ia hadir dalam keheningan setelahnya, ketika debu mulai turun dan manusia saling mencari.


Di titik inilah iman bertemu dengan tanggung jawab. Daripada bertanya "dosa siapa?", lebih bermakna bertanya "apa yang bisa kita lakukan?". Gempa di Flores memanggil kita untuk membangun rumah yang tahan gempa, sistem peringatan dini, dan tata ruang yang menghormati kondisi geologis. Ia memanggil kita untuk tidak lagi membangun di atas patahan tanpa perhitungan, tidak lagi mengabaikan kearifan lokal yang tahu kapan tanah harus diistirahatkan. Di sinilah iman sejati diuji: bukan pada kemampuan untuk menjelaskan bencana, melainkan pada kemauan untuk meresponsnya dengan belas kasih dan keadilan. Iman yang sejati tidak bertanya mengapa bumi berguncang, tetapi bertanya bagaimana kita bisa menjadi tempat berlindung bagi mereka yang kehilangan.

Pada akhirnya, alam adalah alam. Manusia adalah manusia. Di antara keduanya, ada ruang untuk bertanya, berduka, dan berharap—tanpa harus mengorbankan akal sehat atau belas kasih. Gempa di Flores bukanlah pesan moral yang dikirim dari langit untuk menghukum orang-orang tertentu. Gempa adalah panggilan bagi kita semua untuk hidup lebih rendah hati di hadapan alam, lebih bijak dalam mengelola bumi, dan lebih solider dengan mereka yang menderita. Dan jika Tuhan ingin berbicara dalam semua ini, mungkin Ia tidak berbicara melalui getaran bumi, melainkan melalui tangan-tangan yang membersihkan reruntuhan, melalui air mata yang jatuh di atas debu, melalui pelukan yang menghibur manusia yang berduka. Di sanalah yang ilahi hadir: bukan dalam kehancuran, melainkan dalam pemulihan. Bukan dalam gempa, melainkan dalam keheningan setelahnya, ketika manusia saling memanggil nama, memastikan bahwa mereka masih ada, dan bahwa mereka tidak sendirian.

Mungkin itulah misteri yang paling dalam: bahwa di tengah reruntuhan, di antara lempeng yang bergeser dan langit yang diam, manusia tetap menemukan alasan untuk saling mencintai. Dan di situlah, barangkali, Tuhan tersenyum—bukan karena bumi telah mengguncang, tetapi karena manusia, dengan segala kerapuhannya, tetap memilih untuk bangkit, merangkul, dan membangun kembali apa yang telah hilang. Sebab di balik setiap patahan, selalu ada kemungkinan untuk menyambung kembali. Di balik setiap reruntuhan, selalu ada ruang untuk menanam kembali. Dan di balik setiap air mata, selalu ada janji bahwa fajar akan datang lagi, membawa cahaya yang lebih lembut, membawa harapan yang lebih sabar, membawa manusia untuk kembali percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar sendirian di atas bumi yang terus bergetar ini.

Monday, August 17, 2026

Menggugat Teologi Panoptikon: Eksistensi yang Menolak Diawasi

 


Anatomi Kejanggalan

Pernahkah Anda mendengar pernyataan seperti ini: "Jangan buat begitu, nanti dosa." "Jangan ke sana, Tuhan tidak suka." "Hati-hati, Tuhan lagi lihat." Sekilas, kalimat-kalimat ini terdengar seperti nasihat moral yang baik. Ia mengingatkan kita untuk hidup benar, menjauhi yang salah, dan menghormati Tuhan. Kita mengangguk. Kita mengiyakan. Kita bahkan mungkin mengulanginya kepada anak-anak kita.

Tetapi coba masuk lebih dalam—masuk ke dalam kepala Anda sendiri. Dengarkan bukan kata-katanya, tetapi getarannya. Ada sesuatu yang menjanggal, sesuatu yang tidak beres dalam cara kalimat-kalimat itu bekerja di dalam kesadaran kita. Apa yang sebenarnya kita rasakan ketika mendengar "nanti Tuhan marah?" Apakah kita merasakan kerinduan untuk menjadi lebih baik? Atau justru rasa takut yang halus dan dingin—seperti anak kecil yang sedang diawasi oleh orang dewasa yang galak? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam batin kita ketika kita memilih untuk tidak melakukan sesuatu karena "Tuhan tidak suka?" Apakah kita sedang mencintai Allah? Atau kita sedang melindungi diri dari hukuman?

Di sinilah letak kejanggalannya. Kalimat-kalimat itu memakai bahasa moralitas, tetapi cara kerjanya bukan moralitas. Ia adalah pengawasan yang menyamar sebagai nasihat. Ia menciptakan Allah yang bukan lagi Bapa, melainkan pengintai yang tidak pernah berkedip. Dan kita, yang sejak kecil sudah dicekoki kalimat-kalimat seperti itu, tidak pernah benar-benar berhenti untuk bertanya: "Apakah ini iman? Ataukah ini penjara?"

Mari kita jujur. Banyak dari kita tidak mengenal Allah; kita hanya mengenal rasa takut kepada-Nya. Kita tidak pernah mengalami Allah sebagai kehadiran yang menenteramkan. Kita hanya mengalami-Nya sebagai pengawas yang membuat kita selalu cemas. Kita tidak berdoa karena ingin bercakap dengan-Nya. Kita berdoa karena takut jika tidak berdoa, Ia akan murka. Kita tidak ke gereja karena rindu. Kita ke gereja karena takut jika tidak datang, ada yang mencatat nama kita di buku hitam. Kita tidak berbuat baik karena kebaikan itu indah. Kita berbuat baik karena takut dianggap buruk oleh mata yang selalu melihat. Maka seluruh hidup keagamaan kita berubah menjadi pertunjukan. Kita tampil saleh di depan mata yang kita yakini sedang mengawasi. Kita tersenyum, menunduk, mengangkat tangan, menyanyikan lagu-lagu rohani—bukan karena itu lahir dari hati, tetapi karena kita sedang berusaha terlihat baik.

Dan ketika sendirian, ketika tidak ada yang melihat, kita bukan merasa lega. Kita justru merasa semakin diawasi. Sebab mata itu tidak pernah pergi; ia ikut masuk ke kamar kita, hadir dalam sunyi kita, mengintip dari langit-langit, dari cermin, dari dalam kepala kita sendiri. Kita sudah menjadi penjaga bagi diri kita sendiri, dan kita tidak pernah merdeka.

Sekarang, mari  berhenti sejenak dan rasakan kejanggalan itu. Kenapa kalimat "nanti Tuhan marah" begitu akrab di telinga kita, tetapi begitu asing di dalam hati kita? Kenapa kita tidak pernah merasa dicintai ketika mendengarnya, melainkan merasa terancam? Kenapa Allah yang diberitakan oleh Yesus sebagai Bapa yang menantikan anaknya pulang, dalam pengalaman kita justru berubah menjadi satpam semesta yang sibuk mencatat pelanggaran? Di manakah kita kehilangan sesuatu?
Jawabannya sederhana tetapi menyakitkan: kita mewarisi teologi yang salah. Bukan Injilnya yang salah. Bukan Kristusnya yang salah. Tetapi kerangka teologis yang dipakai untuk mewariskan iman—kerangka itu telah lama dibajak oleh logika penjara. Teologi panoptikon.

Panoptikon: Genealogi sebuah Arsitektur Kontrol

Untuk memahami bagaimana teologi dapat berubah menjadi penjara, kita perlu menelusuri asal-usul konsep panoptikon itu sendiri. Jeremy Bentham, filsuf utilitarian Inggris abad ke-18, merancang sebuah bangunan penjara yang ia sebut Panopticon. Bentuknya melingkar, dengan menara pengawas di tengah. Dari menara itu, penjaga bisa melihat semua sel di sekelilingnya. Namun, ada satu elemen kunci yang membuat desain ini begitu efektif: para tahanan tidak pernah tahu kapan mereka sedang diperhatikan. Menara pengawas dirancang sedemikian rupa sehingga penjaga dapat mengawasi tanpa terlihat. Para tahanan tahu bahwa mereka mungkin sedang diawasi setiap saat, tetapi mereka tidak pernah bisa memastikan kapan tepatnya.

Akibatnya, para tahanan mulai mengawasi diri mereka sendiri. Mereka tidak perlu lagi dipaksa secara fisik karena kekuatan pengawasan telah terinternalisasi dalam kesadaran mereka. Mereka menjadi penjaga bagi diri mereka sendiri—selalu waspada, selalu cemas, selalu berperilaku seolah-olah sedang dilihat, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Bentham menyebut ini sebagai prinsip inspeksi yang tak terlihat (the principle of invisible inspection), di mana kekuasaan bekerja paling efektif justru ketika ia tidak terlihat.

Michel Foucault, filsuf Prancis abad ke-20, membaca desain ini sebagai lambang paling sempurna dari cara kerja kekuasaan modern. Dalam karyanya yang monumental, Discipline and Punish (1975), Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan tidak lagi bekerja melalui kekerasan fisik, penyiksaan publik, atau hukuman yang spektakuler. Kekuasaan modern bekerja melalui pengawasan yang meresap ke dalam kesadaran. Manusia tidak perlu dipaksa; cukup membuatnya merasa selalu dilihat, dan ia akan patuh dengan sendirinya.

Foucault menyebut mekanisme ini sebagai disciplinary power—kekuasaan disipliner. Kekuasaan ini tidak bekerja dari atas ke bawah secara langsung, melainkan menyebar ke seluruh jaringan sosial, membentuk subjek-subjek yang patuh bukan karena takut akan hukuman fisik, melainkan karena telah menginternalisasi norma-norma pengawasan. Sekolah, rumah sakit, barak militer, pabrik, dan tentu saja institusi agama—semuanya, menurut Foucault, beroperasi berdasarkan logika panoptik ini.

Yang paling penting dari analisis Foucault adalah pemahamannya tentang bagaimana kekuasaan semacam ini memproduksi subjektivitas. Subjek yang dihasilkan oleh kekuasaan panoptik adalah subjek yang selalu merasa diawasi, yang selalu memonitor dirinya sendiri, yang selalu menyesuaikan perilakunya dengan standar yang dibayangkan. Subjek ini tidak pernah bebas, bukan karena ia dipenjara secara fisik, tetapi karena penjara telah pindah ke dalam kepalanya.

Namun, penting untuk dicatat bahwa Foucault sendiri tidak berhenti pada analisis tentang bagaimana kekuasaan bekerja. Ia juga memberikan perhatian pada kemungkinan perlawanan (resistance). Dalam karyanya yang lain, The History of Sexuality (1976), Foucault menegaskan: Where there is power, there is resistance. Di mana ada kekuasaan, di situ ada perlawanan. Bagi Foucault, kekuasaan tidak pernah total; ia selalu menyisakan ruang bagi subjek untuk melawan, menolak, dan menemukan celah-celah kebebasan. Ini penting bagi kita: teologi panoptikon, sekuat apa pun cengkeramannya, tidak pernah sepenuhnya berhasil menundukkan manusia. Selalu ada kemungkinan untuk melawan, menolak logika penjara, dan menemukan jalan keluar.

Lebih jauh, Foucault juga berbicara tentang "teknik-teknik diri" (technologies of the self)—praktik-praktik yang memungkinkan individu membentuk dirinya sendiri, menjadi subjek yang otentik, bukan sekadar produk kekuasaan eksternal. Dalam kuliah-kuliahnya di Collège de France pada awal 1980-an, Foucault mengeksplorasi bagaimana manusia dalam berbagai tradisi—termasuk tradisi Kristen awal—mengembangkan praktik untuk mengolah diri, sehingga membentuk subjektivitas yang bebas. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam tradisi keagamaan, ada sumber daya untuk melawan logika kontrol dan membangun subjektivitas yang otentik.

Dengan demikian, Foucault tidak hanya memberi kita alat untuk mendiagnosis penyakit teologi panoptikon; ia juga memberi kita petunjuk tentang arah pemulihannya. Jika kekuasaan panoptik bekerja dengan menginternalisasi pengawasan ke dalam kesadaran, maka perlawanan terhadapnya harus dimulai dari dalam—dari kesadaran yang menolak untuk terus-menerus mengawasi dirinya sendiri, dari subjektivitas yang belajar hidup tanpa rasa takut akan mata yang selalu melihat.

Teologi Panoptikon: Ketika Allah Menjadi Menara pengawas

Sekarang, pandanglah agama kita—khususnya Kekristenan yang kita warisi. Bukankah kita telah membentuk Allah menurut logika menara pengawas itu? Allah yang maha melihat. Allah yang tidak pernah tidur. Allah yang mencatat setiap dosa. Allah yang murka terhadap pelanggaran. Kita tidak pernah memakai kata panoptikon dalam khotbah-khotbah kita, tetapi kita telah membangun teologi yang cara kerjanya persis seperti penjara Bentham. Dan yang paling kejam: penjara ini tidak terlihat; ia hidup di dalam kepala. Ia memakai bahasa surga untuk menciptakan neraka batin.

Teologi panoptikon memiliki beberapa karakteristik yang dapat diidentifikasi. Ia mereduksi Allah menjadi fungsi pengawasan, di mana atribut keilahian yang paling ditekankan bukanlah kasih, belas kasihan, atau pengampunan, melainkan omniscience—kemahatahuan. Allah terutama dipahami sebagai Mata yang Melihat Segalanya (the All-Seeing Eye). Atribut-atribut lain—kasih, keadilan, kesetiaan—semuanya ditundukkan pada logika pengawasan. Allah menjadi seperti CCTV kosmis yang tidak pernah mati, merekam setiap gerakan, setiap pikiran, dan setiap niat yang tersembunyi. Dalam teologi semacam ini, kita tidak pernah benar-benar berhadapan dengan Pribadi, melainkan dengan Sistem Pengawasan.

Lebih jauh, teologi panoptikon menggeser motivasi etis dari cinta menjadi ketakutan. Dalam kerangka ini, orang tidak berbuat baik karena kebaikan itu indah, atau karena mereka mengasihi Allah dan sesama. Mereka berbuat baik karena takut dihukum. Etika menjadi strategi untuk menghindari hukuman, bukan ekspresi hati yang telah diubah. Ini bukan moralitas yang sehat; ini adalah neurosis religius—kondisi psikologis ketika seseorang berperilaku benar bukan karena ia ingin, melainkan karena ia takut.

Teologi panoptikon juga menciptakan kesadaran yang terpecah-pecah. Orang yang hidup di bawah teologi ini mengembangkan apa yang disebut psikolog sebagai false self—diri palsu. Mereka tampil saleh di depan publik, tetapi di dalam hati mereka mungkin sangat berbeda. Mereka tersenyum di gereja, tetapi di rumah mereka bisa menjadi orang yang sangat berbeda. Mereka berdoa dengan indah, tetapi pikiran mereka mengembara ke mana-mana. Teologi panoptikon tidak menyembuhkan perpecahan ini; justru memperdalamnya karena menuntut kepatuhan eksternal tanpa transformasi internal.

Pada akhirnya, teologi panoptikon menghancurkan kemungkinan relasi autentik dengan Allah. Dalam teologi ini, tidak ada ruang untuk keraguan, pergumulan, atau pertanyaan yang jujur. Semua harus tampak baik-baik saja. Semua harus terlihat saleh. Allah tidak menjadi tempat perlindungan, melainkan menjadi sumber kecemasan. Berdoa bukan lagi percakapan intim, melainkan laporan kepada atasan. Ibadah bukan lagi perayaan, melainkan inspeksi.

Kita dapat melihat bagaimana teologi panoptikon ini bekerja dalam berbagai aspek kehidupan keagamaan kita. Dalam pendidikan agama, anak-anak diajari untuk takut kepada Allah, bukan untuk mengasihi-Nya. Dalam khotbah, pendeta sering menggunakan rasa bersalah dan ketakutan sebagai alat untuk mengendalikan jemaat. Dalam praktik pastoral, orang-orang yang bergumul dengan keraguan atau kegagalan moral sering dihakimi daripada didampingi. Dalam seluruh struktur gereja, ada penekanan yang berlebihan pada kepatuhan eksternal—datang ke gereja, memberikan persembahan, mengikuti aturan—daripada pada transformasi internal.

Iman yang ditertawakan para Komedian

Menariknya, kontradiksi dalam teologi panoptikon ini tidak hanya diamati oleh para teolog dan filsuf. Para komedian—dengan naluri mereka yang tajam untuk mendeteksi kemunafikan—telah lama menertawakan absurditas konsep Tuhan yang maha kasih tetapi sekaligus maha mengawasi. Tawa mereka, dalam banyak hal, adalah bentuk kritik profetis yang tidak kalah tajamnya dengan analisis akademis.

George Carlin, komedian legendaris Amerika yang terkenal dengan kritik sarkastiknya terhadap agama, secara konsisten menyoroti kontradiksi ini. Dalam monolognya yang terkenal, Religion is Bullshit (1999), Carlin mengejek gagasan tentang Tuhan yang paradoksal: di satu sisi digambarkan sebagai Bapa yang penuh kasih, tetapi di sisi lain sebagai pengawas yang tidak pernah berkedip.  Ia menyindir: He loves you, and He needs money!  Namun yang lebih dekat dengan konteks panoptikon adalah sindirannya tentang God is watching you—konsep bahwa Tuhan selalu melihat, selalu mengawasi, seperti kamera keamanan kosmis. Carlin menertawakan absurditas ini: jika Tuhan benar-benar maha tahu dan maha kasih, mengapa Ia digambarkan seperti polisi rahasia yang mencatat setiap pelanggaran? Mengapa bahasa kasih digunakan untuk menciptakan ketakutan? Bagi Carlin, ini bukan hanya kontradiksi teologis—ini adalah alat kontrol sosial yang memakai nama Tuhan untuk membuat orang patuh.

Ricky Gervais, komedian Inggris yang terkenal dengan ateismenya yang vokal, juga menyindir konsep Tuhan sebagai pengawas abadi dalam acara spesialnya Humanity (2018). Dengan nada sinis yang khas, ia berkata: He's watching you while you're having a wank. That's the God they believe in—a celestial peeping Tom. Gervais menyoroti absurditas teologis dari Tuhan yang maha kasih, tetapi sekaligus maha mengintip—persis seperti kritik terhadap teologi panoptikon. Jika Tuhan adalah kasih, mengapa Ia digambarkan sebagai pengintip yang tidak pernah menghormati privasi? Jika Tuhan adalah Bapa yang baik, mengapa Ia digambarkan sebagai polisi moral yang mencatat setiap pelanggaran kecil?

Dalam tradisi komedi Indonesia, meskipun kritik terhadap agama sering lebih halus karena konteks budaya dan sosial, ada juga momen ketika ironi religius semacam ini disinggung. Cak Lontong, dengan gaya komedinya yang cerdas, pernah menyinggung paradoks antara klaim Tuhan Maha Pengampun dan praktik keagamaan yang justru menanamkan rasa takut. Meskipun tidak seekstrem Carlin atau Gervais, sindiran-sindiran halus semacam ini menunjukkan bahwa kejanggalan teologi panoptikon dapat dirasakan oleh banyak orang—bahkan oleh mereka yang tidak membaca Foucault atau Barth.

Apa yang ditangkap oleh para komedian ini adalah sesuatu yang sering luput dari perhatian para teolog: bahwa teologi panoptikon bukan hanya salah secara doktrinal, tetapi juga absurd secara logis. Ia memakai bahasa kasih untuk menimbulkan ketakutan. Ia menyebut Allah sebagai Bapa, tetapi memperlakukannya seperti polisi. Ia menjanjikan kebebasan, tetapi memberikan penjara. Tawa para komedian adalah respons yang sehat terhadap absurditas ini—sebuah pengingat bahwa kadang-kadang cara terbaik untuk melawan penindasan adalah dengan menertawakannya.

Akar Teeologi Kerangka Pendukung dan Legitimasi Kritik

Untuk memahami teologi panoptikon secara lebih mendalam, kita perlu melacak akar-akar teologisnya sekaligus menunjukkan bahwa kritik terhadapnya bukanlah hal yang baru atau asing bagi tradisi pemikiran. Dari mana gagasan tentang Allah sebagai pengawas yang selalu melihat ini berasal? Dan kerangka pemikiran apa saja yang dapat memperkuat legitimasi gugatan kita terhadapnya?

Ada pengaruh kuat dari tradisi teologis tertentu yang menekankan kedaulatan dan penghakiman Allah secara berlebihan. Dalam tradisi Calvinis yang ketat, misalnya, ada penekanan yang kuat pada kemahatahuan Allah dan ketidakmampuan manusia untuk menyembunyikan apa pun dari-Nya. Meskipun Calvin sendiri menekankan kasih Allah dalam Kristus, warisan teologisnya sering disederhanakan menjadi teologi ketakutan—Allah yang selalu mengawasi, murka terhadap dosa, dan siap menghukum. Ini diperparah oleh pengaruh moralisme agama yang lebih menekankan perilaku daripada hati. Dalam banyak tradisi keagamaan, termasuk kekristenan populer, ada kecenderungan untuk mereduksi iman menjadi sekadar daftar aturan. Yang penting adalah apakah Anda melakukan ini dan tidak melakukan itu, bukan bagaimana hati Anda di hadapan Allah. Moralisme semacam ini secara alami membutuhkan mekanisme pengawasan—seseorang atau sesuatu yang memastikan aturan-aturan itu dipatuhi.

Struktur sosial yang patriarkal dan hierarkis juga turut membentuk teologi panoptikon. Dalam masyarakat di mana otoritas dipahami secara hierarkis—di mana ada atasan dan bawahan, penguasa dan rakyat, orang tua dan anak—Allah juga cenderung dipahami dalam kerangka yang sama. Allah menjadi penguasa tertinggi yang harus dipatuhi, dan ketidakpatuhan dianggap sebagai pelanggaran yang layak dihukum. Namun yang paling penting, teologi panoptikon lahir dari kebutuhan psikologis manusia akan kontrol. Kita ingin mengontrol perilaku orang lain—anak-anak kita, jemaat kita, dan masyarakat kita. Dan cara paling efektif untuk mengontrol adalah dengan menanamkan rasa takut. Jika kita bisa membuat orang percaya bahwa mereka selalu diawasi oleh Allah yang murka, maka mereka akan lebih mudah diatur. Teologi panoptikon, dengan demikian, sering menjadi alat kekuasaan yang digunakan oleh pemimpin agama untuk mempertahankan otoritas mereka. Namun, kita harus jujur: teologi panoptikon juga lahir dari kebutuhan psikologis kita sendiri akan kepastian. Kita ingin dunia yang teratur, di mana yang baik dihargai dan yang jahat dihukum. Kita ingin keadilan. Dan Allah sebagai pengawas yang mencatat segalanya memberi kita ilusi bahwa keadilan akan ditegakkan. Teologi panoptikon, dengan demikian, sering menjadi cara bagi kita untuk mengatasi kecemasan kita sendiri tentang ketidakadilan di dunia.

Namun, kritik terhadap teologi panoptikon ini justru menemukan legitimasi dalam tradisi pemikiran yang sudah lama ada. Thomas Aquinas, dalam Summa Theologiae, membedakan rasa takut budak (timor servilis)—takut semata karena hukuman—dari rasa takut anak (timor filialis)—takut menyakiti atau mengecewakan pihak yang dicintai, yang justru lahir dari kasih. Ini penting karena menunjukkan bahwa kritik kita bukan standar asing yang dipaksakan dari luar tradisi Kristen, melainkan ajakan untuk kembali pada pembedaan yang sesungguhnya sudah lama dikenal tradisi itu sendiri, namun sering kabur dalam pengajaran sehari-hari. Teologi panoptikon telah mereduksi timor filialis menjadi timor servilis—menggantikan ketakutan yang lahir dari kasih dengan ketakutan yang lahir dari ancaman hukuman.

Erich Fromm, dalam Psychoanalysis and Religion, memperkuat analisis ini dengan membedakan agama otoriter—dicirikan ketundukan pada kekuasaan yang dianggap mahakuasa, kebajikan sebagai kepatuhan, dosa sebagai ketidaktaatan—dari agama humanistik, yang berpusat pada potensi manusia untuk mengasihi dan bernalar. Pembedaan ini hampir persis memetakan argumen kita ke dalam kosakata psikologi-sosial yang lebih presisi. Teologi panoptikon, dalam kerangka Fromm, adalah bentuk paling murni dari agama otoriter: Allah sebagai kekuasaan yang harus ditakuti dan dipatuhi, bukan sebagai realitas yang mengundang kita untuk bertumbuh dalam kasih.

Rudolf Otto memberikan nuansa lebih lanjut melalui konsepnya tentang mysterium tremendum et fascinans. Otto menggambarkan pengalaman religius otentik terhadap yang sakral sebagai perpaduan antara tremendum (unsur kegentaran) dan fascinans (unsur daya tarik dan kasih). Kerangka ini memberi nuansa penting: bukan berarti semua rasa takut akan Allah itu keliru, melainkan rasa takut yang patologis adalah rasa takut yang kehilangan fascinans-nya—kegentaran tanpa kasih, seperti yang digambarkan sebagai penjara. Teologi panoptikon telah memisahkan tremendum dari fascinans, sehingga meninggalkan kita dengan kegentaran yang dingin, tanpa daya tarik kasih.

Psikologi agama kontemporer, mengikuti kerangka teori kelekatan (attachment theory), juga membedakan citra Allah sebagai sosok yang memberi rasa aman dengan citra Allah yang menghukum dan memicu kecemasan kronis. Ini memberikan pijakan psikologis yang didukung oleh data empiris, sejalan dengan fenomenologi yang sengaja diperlihatkan, jika teks ini dibaca secara utuh dari atas. Allah yang sehat secara psikologis adalah Allah yang berfungsi sebagai secure base—tempat yang aman untuk kembali—bukan sebagai surveillance camera yang memicu kecemasan.

Kritik Filosofis: Eksistensi yang Menolak diawasi

Di sinilah kita perlu membawa analisis ini lebih jauh, ke tingkat yang lebih filosofis. Karena masalah teologi panoptikon bukan hanya masalah teologis—melainkan juga masalah eksistensial. Ia bukan hanya salah tentang Allah; ia juga salah tentang manusia.

Dalam tradisi filsafat eksistensial—dari Søren Kierkegaard hingga Martin Heidegger, dari Jean-Paul Sartre hingga Gabriel Marcel—terdapat penekanan yang kuat pada keunikan dan kebebasan eksistensi manusia. Manusia bukanlah objek, manusia adalah subjek. Manusia bukanlah barang yang bisa diukur, dikategorikan, dan dikontrol. Manusia adalah eksistensi—keberadaan yang hidup, bernafas, merasakan, meragukan, memilih.

Kierkegaard, filsuf Denmark abad ke-19, yang sering disebut sebagai bapak eksistensialisme, mengkritik keras kekristenan yang telah menjadi sekadar sistem doktrin dan aturan moral. Bagi Kierkegaard, iman bukanlah kepatuhan eksternal terhadap aturan-aturan, melainkan lompatan subjektif yang penuh risiko. Iman adalah keputusan eksistensial yang diambil oleh individu yang berdiri sendirian di hadapan Allah—bukan sebagai objek yang diawasi, melainkan sebagai subjek yang memilih. Dalam karyanya The Sickness Unto Death, Kierkegaard menggambarkan keputusasaan yang muncul ketika manusia kehilangan dirinya sendiri—ketika ia menjadi sekadar objek dalam sistem, termasuk sistem religius.

Heidegger, filsuf Jerman abad ke-20, berbicara tentang Dasein—cara berada manusia yang unik, yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar objek di antara objek-objek lain. Manusia adalah makhluk yang bertanya tentang keberadaannya sendiri, bergumul dengan makna, dan menghadapi kematian. Dalam analisis Heidegger tentang das Man (the "they"—orang banyak), ia menunjukkan bagaimana manusia sering kehilangan otentisitasnya dengan menyesuaikan diri pada harapan sosial. Manusia yang tidak otentik hidup dalam mode apa yang orang lain pikirkan—ia selalu tampil, selalu berusaha memenuhi standar eksternal, dan selalu takut akan penilaian orang lain. Teologi panoptikon menciptakan kondisi yang persis seperti ini: manusia religius yang tidak otentik, yang selalu tampil untuk menyenangkan pengawas, dan yang selalu takut akan penilaian ilahi.

Sartre, filsuf Prancis yang terkenal dengan semboyannya bahwa eksistensi mendahului esensi, menekankan bahwa manusia tidak memiliki esensi yang telah ditentukan sebelumnya. Manusia adalah kebebasan radikal—ia menciptakan dirinya sendiri melalui pilihan-pilihannya. Bagi Sartre, hidup di bawah pengawasan—baik pengawasan manusia maupun ilahi—merupakan bentuk bad faith (itikad buruk), di mana manusia menolak kebebasannya dengan menyerahkan dirinya sebagai objek. Manusia yang hidup dalam ketakutan akan pengawasan ilahi, bagi Sartre, telah menolak kebebasannya yang paling fundamental.

Meskipun kita tidak perlu menerima semua premis filosofis para eksistensialis ini, kita dapat belajar dari mereka satu hal yang penting: manusia tidak boleh direduksi menjadi objek pengawasan. Manusia adalah eksistensi yang hidup, yang membutuhkan ruang untuk menjadi, bergumul, meragukan, dan memilih. Dan iman yang sehat harus menghormati kebebasan eksistensial ini.

Implikasi Praksis: Membebaskan Diri dari Penjara

Jika keseluruhan analisis ini benar, maka pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar bagaimana kita memahami Allah secara teologis, melainkan bagaimana kita membebaskan diri dari penjara yang telah terinternalisasi dalam kesadaran kita?. Ini adalah pertanyaan tentang praktik, tentang langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk membangun kehidupan iman yang sehat. Namun, justru di sinilah kita harus berhati-hati, sebab godaan untuk mengubah pembebasan menjadi metode yang kaku—menjadi daftar langkah yang harus diikuti dengan cemas—adalah godaan yang sangat nyata. Pembebasan dari teologi panoptikon tidak boleh berubah menjadi bentuk baru dari legalisme yang sama, hanya dengan wajah yang lebih ramah.

Langkah paling mendasar adalah yang dapat disebut sebagai dekonstruksi teologis. Ini bukan dekonstruksi dalam arti meruntuhkan iman, melainkan dalam arti memeriksa secara kritis keyakinan-keyakinan yang telah kita warisi tanpa pernah kita pertanyakan. Kita perlu bertanya dengan jujur: Apakah gambaran Allah yang saya miliki ini alkitabiah, ataukah ini proyeksi ketakutan saya sendiri? Apakah saya mengasihi Allah, ataukah saya hanya takut kepada-Nya? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terasa mengancam, tetapi justru di sinilah letak pembebasannya. Sebab penjara panoptikon bekerja paling efektif ketika tidak disadari. Ia hidup di dalam kepala kita sebagai suara yang kita anggap sebagai suara Allah sendiri. Dekonstruksi adalah tindakan untuk memisahkan suara Allah yang sejati dari suara penjara yang telah menyamar sebagai suara Allah. Tanpa langkah ini, semua upaya pembebasan lainnya hanya akan menjadi kosmetik—mengganti ekspresi luar tanpa menyentuh struktur dalam yang tetap mengawasi—Sebuah Pseudo teologi.

Namun, dekonstruksi saja tidak cukup. Ia harus mengarah pada sesuatu yang lebih konkret, dan di sinilah kejujuran dalam doa menjadi krusial. Salah satu kerusakan paling mendalam yang disebabkan oleh teologi panoptikon adalah rusaknya praktik doa. Doa tidak lagi menjadi percakapan intim, melainkan laporan kepada atasan. Kita berdoa dengan kata-kata yang indah, dengan rumusan yang saleh, tetapi hati kita jauh dari Allah. Kita belajar menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya—kegagalan, keraguan, kemarahan, keputusasaan—karena kita takut bahwa Allah akan murka jika kita jujur. Padahal, justru sebaliknya: Alkitab penuh dengan doa-doa yang jujur, yang mentah, yang bahkan terdengar kurang ajar di telinga orang-orang religius. Mazmur adalah model doa yang jujur. Pemazmur berteriak: "Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN" (Mazmur 130:1). Ia tidak menyembunyikan keputusasaannya; ia justru membawanya ke hadapan Allah. "Aku tidak akan menahan mulutku; aku akan berbicara dalam kepedihan jiwaku... Kapan Engkau akan memalingkan pandangan-Mu dariku, dan membiarkan aku menelan ludahku? Jika aku berdosa, apakah yang kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia?" (Ayub 7: 11, 19-20). Ayub menyebut Allah sebagai "Penjaga manusia" dengan nada sindiran yang tajam. Ia mempertanyakan mengapa Allah begitu fokus mengawasinya, seolah-olah ia merupakan ancaman kosmis. Ini adalah gugatan langsung terhadap logika panoptikon—dan Allah tidak menghukum Ayub karena kejujurannya. Kejujuran semacam ini merupakan bentuk perlawanan terhadap logika panoptikon, yang selalu menuntut kita untuk tampil baik. Namun, kejujuran ini tidak mudah. Ia membutuhkan keberanian untuk menghadapi kemungkinan bahwa Allah mungkin tidak merespons sebagaimana yang kita harapkan. Ia membutuhkan iman yang cukup untuk percaya bahwa Allah cukup besar untuk menampung kemarahan kita, keraguan kita, bahkan tuduhan-tuduhan kita.

Pembebasan dari teologi panoptikon juga tidak bisa terjadi secara terisolasi. Kita membutuhkan komunitas yang aman—komunitas di mana orang bisa jujur tentang pergumulan mereka tanpa takut dihakimi. Banyak dari kita terluka oleh komunitas religius yang menghakimi, yang justru memperkuat logika panoptikon dengan menjadikan dirinya sebagai perpanjangan mata Allah yang mengawasi. Gereja, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan, sering kali berubah menjadi menara pengawas itu sendiri. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang menolak menjadi menara pengawas. Ia adalah komunitas yang meneladani Bapa dalam perumpamaan anak yang hilang—yang berlari menyambut, yang memeluk tanpa syarat, yang merayakan kepulangan. Namun, komunitas semacam ini tidak muncul dengan sendirinya. Ia harus dibangun dengan sengaja, dengan komitmen untuk saling menerima, saling mengampuni, dan saling mendampingi dalam pergumulan. Ini adalah pekerjaan yang lambat dan melelahkan, tetapi tanpa komunitas semacam ini, pembebasan individual akan selalu terasa rapuh.

Ada juga langkah yang lebih internal dan personal: belas kasihan terhadap diri sendiri. Ini mungkin adalah langkah yang paling sulit, karena teologi panoptikon telah melatih kita untuk menjadi hakim atas diri kita sendiri. Suara pengawas itu telah terinternalisasi sedemikian rupa sehingga kita tidak lagi membutuhkan pengawas eksternal; kita telah menjadi pengawas bagi diri sendiri. Kita selalu mengkritik diri sendiri, selalu menuntut kesempurnaan, dan selalu merasa bersalah serta merasa tidak cukup baik. Belas kasihan kepada diri sendiri adalah tindakan perlawanan terhadap suara ini. Ia adalah keputusan untuk memperlakukan diri kita sendiri dengan kelembutan yang sama seperti Allah memperlakukan kita. Ini bukan berarti meremehkan dosa atau mengabaikan pertumbuhan; ini berarti menolak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk menghukum diri sendiri tanpa henti. Dalam tradisi Kristen, ini sebenarnya bukan hal yang asing. Anugerah, sebagaimana dipahami oleh para reformator, adalah justru penerimaan Allah atas kita yang tidak sempurna. Belas kasihan kepada diri sendiri adalah penerapan anugerah ini kepada diri kita sendiri—sesuatu yang jauh lebih sulit daripada yang sering kita akui.

Akhirnya, semua langkah ini bermuara pada pemulihan pemahaman tentang anugerah. Teologi panoptikon didasarkan pada logika prestasi—kita harus tampil baik agar diterima. Tetapi Injil adalah kabar baik tentang anugerah—kita diterima bukan karena kita baik, melainkan karena Allah baik. Anugerah adalah kebalikan dari pengawasan. Pengawasan menuntut; anugerah memberi. Pengawasan menghakimi; anugerah memeluk. Pengawasan menciptakan ketakutan; anugerah menciptakan kebebasan. Ketika kita benar-benar memahami anugerah, kita tidak lagi merasa perlu tampil sempurna. Kita bisa beristirahat dalam kasih Allah yang tidak bersyarat. Kita bisa menjadi diri kita sendiri—dengan segala kelebihan dan kekurangan kita—karena kita tahu bahwa kita diterima apa adanya. Namun, pemahaman tentang anugerah ini bukanlah sesuatu yang bisa dicapai sekali dan bertahan selamanya. Ia adalah kebenaran yang harus terus-menerus diperjuangkan, karena suara panoptikon tidak pernah benar-benar hilang. Ia selalu siap untuk kembali, membisikkan tuntutan-tuntutannya, dan menanamkan rasa takut. Pembebasan dari teologi panoptikon, dengan demikian, bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan perjuangan yang berkelanjutan—sebuah latihan rohani yang harus diulang setiap hari.

Hantu Bernama Pertanyaan

"Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak-anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'" (Roma 8:15)

Demikianlah Paulus menulis. Demikianlah kita mengamininya. Tetapi sekarang, setelah menelusuri seluruh labirin teologi panoptikon ini, izinkan saya bertanya dengan kegelisahan yang tidak sopan: Apakah kita benar-benar hidup sebagai anak, atau kita hanyalah tahanan yang belajar menyebut penjara sebagai rumah? Jangan menjawab terlalu cepat. Sebab pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan pengakuan iman yang fasih. Ia hanya bisa dijawab dengan cara kita berdoa ketika tidak ada yang melihat, cara kita berperilaku ketika kita yakin tidak ada yang mengawasi, dan cara kita memperlakukan diri sendiri ketika kita gagal. Apakah doa kita adalah percakapan anak dengan Bapa, atau laporan tahanan kepada sipir? Apakah ibadah kita adalah perayaan kasih, atau inspeksi berkala untuk memastikan kita tidak dihukum? Apakah kebaikan kita lahir dari cinta, atau dari ketakutan yang telah kita pelajari untuk disebut cinta?

Dan di sinilah terdapat pertanyaan yang mengganggu: Siapakah Allah yang selama ini kita sembah? Apakah Ia benar-benar Bapa yang digambarkan Yesus—yang berlari menyambut anak yang hilang, memeluk tanpa syarat, dan tidak menuntut penjelasan? Ataukah Ia adalah konstruksi teologis yang kita bangun dari ketakutan kita sendiri—sebuah menara pengawas yang kita dirikan di dalam kepala, lalu kita sebut sebagai surga? Pertanyaan ini sedikit mengganggu karena ia tidak hanya menyentuh doktrin; ia juga menyentuh identitas. Sebab jika Allah yang selama ini kita sembah adalah Allah yang palsu—Allah yang lahir dari kebutuhan kita akan kontrol dan ketakutan kita akan hukuman—maka siapakah kita? Apakah kita anak-anak, atau tahanan yang menyebut penjara sebagai rumah?

Jangan buru-buru menjawab. Biarkan pertanyaan-pertanyaan ini tinggal di dalam diri kita, mengganggu tidur kita, dan meresahkan doa-doa kita. Sebab pertanyaan yang baik tidak selalu membutuhkan jawaban yang cepat. Kadang-kadang, pertanyaan yang baik justru harus dibiarkan bekerja di dalam diri kita, membongkar lapisan-lapisan kepalsuan yang telah kita bangun selama bertahun-tahun, sampai akhirnya kita berdiri telanjang di hadapan Allah—bukan dengan topeng kesalehan, melainkan dengan kejujuran mentah. Dan di sanalah, di dalam kejujuran yang mentah itu, mungkin untuk pertama kalinya kita akan mendengar suara yang bukan suara pengawas, melainkan suara Bapa yang memanggil kita dengan nama. Maka pertanyaan terakhir bukanlah apakah kita percaya kepada Allah, melainkan: Allah yang mana yang selama ini kita percayai? Dan apakah Allah itu cukup besar untuk menampung keraguan kita, cukup kuat untuk menanggung kemarahan kita, cukup bebas untuk menerima kita apa adanya—ataukah ia hanyalah proyeksi ketakutan kita yang paling dalam, yang tidak pernah benar-benar membebaskan, melainkan hanya mengawasi, menuntut, dan menghakimi?

"Sadar Jika kau seorang manusia. Namun, jika kau Tuhan dan bukan tuhan atas diri sendiri, mungkin hendakanya kau menciptakan patung Yesus dan duduk bercerita dengan-Nya dalam ketiadaan dan ketidaktahuan"_ DYW