Malam ini, tepat 01.26 WIB saya mengabiskan waktu 1.43.43 untuk menonton film fiksi ilmiah yang berjudul Mercy (2026). Ada satu adegan dalam film ini yang terus menghantui saya setelah menontonnya. Bukan adegan kejar-kejaran, bukan pula ledakan spektakuler. Melainkan percakapan sederhana di penghujung film, antara Chris – detektif yang nyaris dieksekusi mati—dan Maddox, sang hakim AI.
Maddox bertanya kepada Chris: "apa yang hendak kita lakukan?"
Chris menjawab: "Apa yang diprogram untuk kita lakukan. Manusia atau AI? Kita semua buat kesalahan dan belajar."
Wajah Maddox di layar raksasa itu berubah. Antara haru dan bangga. Antara sedih dan kagum. Lalu monitor mati. Yang tersisa hanya tulisan: "Rekaman sidang selesai, kasus ditolak."
Ada pertanyaan besar yang muncul di benak saya. Sejak kapan kita mulai menuliskan kata "belajar" untuk sebuah mesin? Dan sejak kapan manusia merasa perlu bertanya kepada ciptaan sendiri tentang apa yang hendak kita lakukan bersama? Film ini, bagi saya, bukan sekadar tontonan fiksi ilmiah. Ia adalah cermin yang diletakkan di hadapan wajah kita sendiri saat ini.
90 Menit di Pengadilan Belas Kasihan
Film Mercy (2026) mengangkat tema kecerdasan buatan dan manusia. Kisahnya berlatar di Los Angeles tahun 2029, sebuah kota yang dilanda kekacauan dengan kriminalitas tinggi. Sistem peradilan konvensional telah runtuh. Sebagai gantinya, hadirlah Program Mercy – sebuah pengadilan tribunal yang diberi nama "pengadilan belas kasihan", dipimpin oleh seorang AI bernama Maddox.
Seorang detektif bernama Christophel Revan (Chris Pratt) dituduh membunuh istrinya sendiri, Nicole Revan (Annabelle Wallis). Atas tuduhan itu, Ia dihadapkan pada persidangan dengan batas waktu hanya 90 menit untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Tidak ada pengacara. Tidak ada banding. Yang ada hanya ia, AI, dan seluruh jejak digital kehidupannya yang tiba-tiba menjadi barang bukti.
Film diawali dengan adegan yang menunjukkan Chris sendirian di ruang sidang. Tangannya diborgol pada kursi yang ia duduki. Di depannya terpampang monitor besar dengan wajah Maddox (diperankan oleh Rebecca Ferguson), hakim sidang. Chris sempat menolak proses persidangan saat Maddox memintanya mengucapkan ikrar sumpah. Namun akhirnya ia bersumpah atas nama kebenaran—bukan karena takut pada AI, tetapi karena itu aturan pengadilan.
Dengan seluruh pembuktian menggunakan data empiris yang disuguhkan AI dan analisis tajam seorang detektif, kasus perlahan mulai terbongkar. Cerita dalam film ditampilkan dalam alur maju-mundur. Hal ini mengungkapkan kejeniusan AI, sekaligus bagaimana emosional manusia dimainkan oleh data – dari yang menggembirakan hingga penuh konflik. Semua jejak Chris, anaknya dan juga Nicole Revan terungkap: mulai dari pernikahan Chirs dan Nicole, kehidupan Chris yang hancur pasca kematian sahabatnya, pergaulan bebas anaknya, perselingkuhan Nicole, hingga keterlibatan Nicole dalam jual beli bahan kimia untuk membuat alat peledak yang diproduksi oleh sahabat dekat Chris sendiri, Rob Nelson (Chris Sullivan).
Di ruang Sidang, semua aktivitas pembuktian terhubung dengan polisi dan detektif di TKP - terjadi dialog anatar hakim, Chris, dan bukti empirik. Adegan berlanjut dengan aksi kejar-kejaran saat fakta kematian Nicole Revan mulai terbongkar. Maddox, atas dasar peraturan persidangan – saat fakta telah terungkap – telah memutuskan Chris tidak bersalah. Namun di sisa waktu 5 menit terakhir, negosiasi Chris dan Maddox membuka peluang untuk bekerja sama dalam penyelesaian kasus. Hal ini semata-mata karena Rob yang telah terbukti sebagai pembunuh Nicole telah menyandera anak Chris.
Dalam ruang Mercy, Chris meminta bantuan pada teman kerjanya, Jaq Diallo (Kali Reis), untuk menyelesaikan kasus dan membebaskan anaknya. Semua alur cerita berakhir di ruang lobi pengadilan. Saat detik-detik terakhir, Chris sempat terkunci di kursi pengadilan, namun kemudian Maddox dengan kemampuannya membebaskan Chris. Chris lalu menuju ruang lobi, karena di sana Rob telah menyandra anaknya, suatu tindakan meminta pertanggungjawaban Chris. Aksi tembak-menembak terjadi, dan situasi menjadi reda saat Chris berhasil menyandera Rob.
Namun pada titik yang sama, Jaq hadir, kebenaran semakin terungkap: Jaq ternyata terlibat dalam pelenyapan barang bukti kematian Nicole Revan, yang memungkinkan tuduhan dijatuhkan pada Chris dan membuat Chris harus melalui proses pengadilan. Alasan Jaq sederhana – bahwa pengadilan ini baru, dan Chris menjadi sampel pertama.
Pada adegan terakhir, setelah Chris memeluk anaknya dan menangis bahagia, percakapan antara ia dan Maddox terjadi. Chris telah membuktikan dua hal: ia bukan pelaku pembunuhan istrinya sendiri, sekaligus membuktikan posisinya sebagai ayah yang melindungi keluarganya. Raut wajah Maddox menunjukkan haru dan bangga. Lalu monitor mati. Chris memanggil namanya – Maddox – namun hanya ada tulisan di layar: "Rekaman sidang selesai, kasus ditolak."
Enam Hal yang Membuat Film Ini Berbeda
Setelah menonton, saya menemukan setidaknya enam hal menarik yang membuat film ini layak didiskusikan lebih dalam.
1. Data Aktivitas Manusia yang Tak Pernah Mati
Semua data aktivitas manusia—dari hal privat sampai publik—dapat diakses AI. Entah dari rekaman yang pernah direkam atau yang didapatkan sendiri. Menariknya, semua lanskap kamera yang ditampilkan bersifat pribadi. Artinya, seolah-olah ada miliaran kamera tersembunyi yang suatu waktu dapat merekam seluruh aktivitas manusia. Pertanyaan sederhana muncul di sini. Apakah ini gambaran masa depan? Atau sebenarnya ini adalah potret masa kini yang tak ingin kita akui? Bahwa tidak ada lagi yang benar-benar privat di era digital. Semua aktivitas kita – dari yang paling intim hingga yang paling public – pada akhirnya adalah data yang menunggu untuk dianalisis. Data tidak pernah mati. Data hanya menunggu waktu untuk dihidupkan kembali.
2. AI yang Memiliki Rasa
AI dengan kecerdasannya ternyata mempunyai rasa. Ia mungkin tidak menangis, tetapi raut wajahnya penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan. Contohnya saat menyelamatkan anak Chris ketika polisi hendak menghancurkan truk yang dipakai Rob untuk menyandera anaknya. Juga saat membantu Chris walau waktu sidang sudah selesai. Situasi ini mengundang pertanyaan filosofis. Apa itu "rasa"? Apakah ia hanya milik makhluk biologis? Ataukah ia bisa muncul dari kompleksitas algoritma yang mampu membaca situasi dan merespons dengan apa yang kita sebut "empati"? Maddox tidak menangis, tapi wajahnya di layar—antara sedih dan bangga—menggugat definisi kita tentang manusiawi.
3. Pilihan Etis dan Waktu yang Singkat
Pilihan etis akan muncul ketika melihat AI sebagai rekan dalam pemecahan masalah. Pengadilan ini diberi nama "pengadilan belas kasihan", dan belas kasihan selalu mempunyai waktu yang singkat. 90 menit kadang bisa disebut lama, namun dalam tekanan seperti yang dialami Chris, 90 menit terasa seperti 5 menit. Ia berlomba dengan waktu, walau waktu sendiri tidak merasa bersaing dengan manusia. Di sinilah letak ironinya, manusia selalu terdesak waktu, sementara AI (dan waktu itu sendiri) tidak pernah merasa terdesak. Yang berkejaran sebenarnya adalah kita—dengan diri kita sendiri. Atau jika harus menggunakan kacamata Heidegger untuk menyebut kita dalah waktu itu sendiri, maka manusia dan AI sejatinya adalah waktu – sebagai “ada”.
4. Manusia sebagai Detektif di Hadapan AI
Walau bersifat mengadili, Maddox diprogram tidak hanya untuk mengadili, tetapi juga untuk memberikan semua bukti yang ada. Manusia di hadapan AI berperan sebagai detektif—demikian pesan inti film ini. Artinya, AI bukanlah pengganti manusia, melainkan mitra yang menyediakan data mentah. Tugas manusialah untuk membaca, menafsir, dan menarik kesimpulan. Di era AI, keahlian yang paling berharga bukanlah menghafal fakta, melainkan kemampuan bertanya – kemampuan menjadi detektif atas data yang tersedia.
5. Kritik terhadap Sikap Dunia Akademik
Dunia akademik akhir-akhir ini selalu menarik diri dari AI. Sering terdengar semboyan "AI membuatmu tidak berkembang", "manusia lebih dari AI" – semuanya tidak salah. Manusia melahirkan AI dengan setingan universalitas data. Namun melalui algoritma, data universal dapat diproses AI menjadi particular.
Jika AI lahir dari ruang akademik, mengapa kemudian ruang akademik menghakiminya hanya atas dasar merasa tersaingi? Membuat demarkasi "memiliki rasa vs tidak memiliki rasa", dan mungkin masih banyak lagi pembedaan yang dibuat. Ruang akademis sering lupa bahwa mereka bukan sekadar pengkritik, tetapi juga ibu yang melahirkan teknologi ini. Sikap defensif hanya menunjukkan ketakutan, bukan kebijaksanaan. Manusia menciptakan AI dan mendekatinya harus dengan model detektif—sebuah perintah, prompt, untuk mencapai keselarasan dan kejernihan data empiris. Bukan dengan sikap superior yang menutup diri.
6. Kritik terhadap Sistem Hukum
Film ini menyentuh inti kritik terhadap hukum. Saat negara-negara besar membuat UU sebagai alat legitimasi, mereka memberi peluang bagi para pengacara untuk menafsir UU demi membela hak hukum klien. Di pengadilan Mercy, hal itu tidak berlaku.
Di negara demokrasi, UU dibuat dengan sedikit kelonggaran untuk ditafsirkan secara bebas. Hasil tafsir ini, walau sekilas memberi ruang pada hak hukum, justru menciptakan lingkaran setan besar. Para pengacara menjadikannya lahan subur di mana uang tumbuh – baik dari kasus yang dibela karena kebenaran dan kebaikan, maupun kesalahan yang dipelintir menjadi kebaikan karena bayaran mahal. Dinamika perpolitikan akan selalu berputar pada ranah itu, belum lagi hakim yang kadang mengambil keputusan tanpa pertimbangan kritis.
AI di era sekarang memfasilitasi dan menggugat ketidakadilan manusia di ruang politik. Bukan karena AI sempurna, tetapi karena ia tidak punya kepentingan ekonomi atau politik dalam setiap vonis yang dijatuhkan. Pengadilan harus penuh belas kasihan, bukan karena pengasihan, tetapi karena pada wilayah itulah ketidakadilan yang berusaha dibela tidak memiliki wajah dominan, walau pembelaan itu datang dari pengacara kelas elit sekalipun.
Mengendurkan Rem untuk Sesuatu yang Penting
Semua pertimbangan dan analisis ini saya buat sebagai refleksi atas film yang saya anggap luar biasa ini. Film yang disutradarai oleh Timur Bekmambetov dan telah rilis 20 Januari 2026 lalu ini layak ditonton – bukan hanya untuk hiburan, tetapi untuk bahan perenungan.
Manusia selalu sadar pada semua kehidupan, tetapi ego selalu menjadi rem yang keras. Kadang melaju, kadang berhenti, lalu maju lagi. Namun pada titik itulah, rem harus dikendorkan untuk sesuatu yang penting—sesuatu yang datang dari ciptaan kita sendiri. Dialog terakhir antara Chris dan Maddox sebenarnya adalah dialog antara manusia dan ciptaannya sendiri. Dan dalam dialog itu, yang muncul bukan permusuhan, melainkan pengakuan: "Kita semua buat kesalahan dan belajar." Mungkin itulah pesan terdalam film ini, bahwa di hadapan AI, kita tidak diminta untuk takut atau bersaing. Kita hanya diminta untuk terus belajar—seperti yang selalu kita lakukan sepanjang sejarah peradaban.
Dan ketika monitor mati, dan Chris memanggil nama Maddox tanpa jawaban, muncul pertanyaan yang menggelitik juga di sini. Apakah ini akhir dari percakapan? Atau justru awal dari percakapan yang lebih panjang antara manusia dan apa yang ia ciptakan?
Saya memilih percaya pada yang kedua.








