Tuesday, July 21, 2026

SOCRATES X YESUS: MENGGUGAT PAULUS DAN ANSELMUS

 


"Paulus membunuh Yesus dan mewartakan Kristus." Satu kalimat yang merangkum pandangan Nietzsche tentang kritik terhadap Paulus. Ini bukan sekadar provokasi, melainkan pisau bedah yang membelah sejarah teologi. Ia mengatakan apa yang takut diucapkan banyak orang: bahwa antara Yesus dari Nazaret yang berjalan di tanah Galilea dan Kristus yang diberitakan Paulus, terbentang jurang yang begitu lebar sehingga bisa disebut sebagai pembunuhan simbolis. Bukan pembunuhan fisik—itu sudah dilakukan Roma—melainkan pembunuhan atas identitas, atas ajaran, atas wajah Yesus yang otentik, yang kemudian digantikan oleh sebuah figur kosmis yang jauh lebih nyaman bagi logika Yunani-Romawi.

Jika kita hendak iseng menggunakan cocokologi Abunawas, sekilas, memang ada kemiripan antara Socrates dan Yesus. Keduanya tidak menuliskan sepatah kata pun, namun pengaruh mereka mengguncang peradaban. Keduanya dihukum mati oleh otoritas karena dianggap mengajarkan kebenaran yang mengancam tatanan. Keduanya hidup sederhana dan mati sebagai martir. Namun kemiripan ini dangkal—bahkan menyesatkan—karena Yesus bukanlah Socrates kedua, atau sebaliknya. Socrates adalah filsuf akal budi yang mencari kebenaran melalui dialektika; Yesus adalah nabi yang datang dengan otoritas Ilahi. Socrates meyakini bahwa kebajikan adalah pengetahuan dan kejahatan lahir dari ketidaktahuan; Yesus mengajarkan kasih tanpa syarat kepada musuh sekalipun. Perbedaan ini fundamental, tetapi justru Paulus dan Anselmus-lah yang kemudian mengaburkannya dengan membangun sistem teologi rasional yang membuat Yesus terlihat seperti seorang filsuf yang mati demi sebuah ide, bukan seorang guru yang mati karena cinta.

Perbedaan paling radikal antara Yesus dan Socrates terletak pada cinta kasih tanpa syarat. Socrates, dalam dialog-dialognya, mengajarkan agar kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi argumennya selalu berakar pada logika kepentingan diri: berbuat jahat merusak jiwa pelaku. Ia tidak pernah mengajarkan perintah untuk mengasihi musuh. Yesus justru melangkah lebih jauh—dengan radikal dan tanpa kompromi ia berkata, "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Ini bukan logika; ini adalah lompatan iman yang absurd di mata akal sehat. Socrates adalah dokter jiwa yang mengobati dengan pisau bedah logika; Yesus adalah raja yang menawarkan kerajaan kasih di luar akal sehat. Tujuan Socrates adalah mencerahkan pikiran; tujuan Yesus adalah menyelamatkan jiwa dari kekosongan—bukan dari neraka, melainkan dari hidup tanpa makna dan tanpa cinta.

Namun, jika kita membaca Perjanjian Baru dengan kritis, kita mendapati bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengajarkan teori penebusan dosa. Yang ia ajarkan adalah Kerajaan Allah, pertobatan, pengampunan, dan kasih. Ia tidak pernah berkata, "Aku datang untuk membayar utang dosamu." Ia berkata, "Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan berkelimpahan." Ia berbicara tentang kehidupan, bukan tentang pembayaran. Lalu dari mana datangnya doktrin bahwa salib adalah penebusan dosa? Jejak historis menunjukkan bahwa Paulus-lah yang pertama kali merumuskan kematian Yesus sebagai "pendamaian" dengan meminjam bahasa kurban dari tradisi Yahudi dan mengubah Yesus menjadi imam sekaligus kurban—sebuah kategori yang asing bagi Yesus sendiri. Para penulis Injil kemudian menulis narasi sengsara melalui lensa Yesaya 53, membaca makna ke belakang, ke dalam peristiwa yang terjadi. Dan puncaknya, Anselmus dari Canterbury pada abad ke-11 mengubah semuanya menjadi sistem hukum feodal yang rapi.

Di sinilah gugatan terhadap Paulus dapat kita ajukan. Paulus menggeser fokus dari Kerajaan Allah di bumi—yang penuh keadilan sosial, perjamuan bersama, dan kesetaraan—menjadi keselamatan individu melalui iman. Yesus mengajarkan etika: "Lakukan ini dan engkau akan hidup." Paulus mengajarkan ortodoksi: "Percaya ini dan engkau akan selamat." Pergeseran dari jalan ke keyakinan adalah radikal dan problematik. Paulus juga menciptakan jurang antara Allah dan manusia yang justru Yesus hapuskan. Yesus memanggil Allah "Abba, Bapa"—intim, dekat seperti orang tua yang merangkul. Paulus membangun teologi tentang murka Allah yang harus diredakan—sebuah proyeksi psikologis tentang manusia yang marah, bukan tentang karakter Yesus yang penuh kasih. Dan yang paling janggal, Paulus merumuskan dosa asal dengan membaca narasi Adam-Hawa secara keliru. Dalam tradisi Yahudi, kisah itu bukanlah kejatuhan metafisik, melainkan cerita tentang kedewasaan manusia. Hawa bukan perempuan pendosa; ia adalah figur ibu pengetahuan yang berdialog dalam tarian tubuh dengan Sang Pencipta sehingga melahirkan pengetahuan abadi yang kita wariskan hingga detik ini. Paulus membacanya melalui lensa dualisme Yunani, dan dari pembacaan keliru inilah lahir rasa bersalah universal yang tidak pernah Yesus ajarkan.

Lanjut ke Anselmus. Dalam bukunya Cur Deus Homo, Anselmus menggunakan logika feodal untuk menjelaskan dosa. Allah adalah tuan tanah yang kehormatannya harus dipulihkan; dosa adalah penghinaan tak terbatas terhadap kehormatan itu; Yesus adalah ksatria yang membayar utang kehormatan dengan nyawanya. Ini adalah proyeksi struktur kekuasaan manusia ke atas Allah. Anselmus tidak bertanya apakah Allah butuh kehormatan; ia bertanya bagaimana sistem hukum feodal dapat menjelaskan salib. Ia menggantikan relasi dengan transaksi, cinta dengan utang, dan Bapa dengan hakim. Yang lebih mengerikan, teori Anselmus menghalalkan kekerasan sebagai kehendak Allah—seolah-olah Bapa menghendaki Putra-Nya disiksa untuk memuaskan kemarahan-Nya sendiri. Ini adalah teologi yang sadis dan sama sekali asing bagi Yesus yang mengajarkan pengampunan tanpa syarat. Salib bukanlah kehendak Allah; salib adalah konsekuensi dari sistem manusia yang membunuh kebenaran. Allah tidak merancang salib; Allah masuk ke dalam salib untuk menunjukkan bahwa Ia tidak tinggal diam di tengah penderitaan.

Dengan menggugat Paulus dan Anselmus, kita tidak kehilangan iman; kita justru menemukan Yesus yang lebih otentik. Yesus yang mengajarkan pengampunan tanpa syarat, bukan pengampunan yang dibeli dengan darah. Yesus mengajak kita memikul salib sendiri, bukan menjadikan salib-Nya sebagai pengganti. Yesus tidak pernah berkata, "Aku mati untukmu," melainkan, "Bangunlah dan ikutilah Aku." Salib bukan pembayaran; salib adalah konsekuensi dari hidup dalam kebenaran di tengah sistem kekerasan. Kebangkitan bukan bukti pembayaran diterima; kebangkitan adalah bukti bahwa kebenaran tidak bisa dikubur. Kekerasan, kebohongan, dan ketidakadilan boleh membunuh, tetapi cinta bangkit kembali. Itulah inti peradaban yang Yesus perkenalkan: peradaban yang tidak takut pada salib, karena salib telah diubah menjadi pangkuan tempat kebenaran lahir kembali.

Akhirnya, kita sampai pada pertanyaan tentang dosa. Dosa siapa yang ditebus Yesus? Bukan dosa Adam atau Hawa. Hawa justru adalah figur yang berani—ia berdialog, ia ingin mengetahui. Pengetahuan yang lahir dari tarian tubuh dengan Sang Pencipta itu bukan kejatuhan, melainkan kelahiran kesadaran manusia. Manusia menjadi subjek yang bisa memilih, bisa salah, bisa mencintai, bisa membunuh. Dan di situlah kemuliaannya: kita bukan robot yang patuh, melainkan makhluk yang bertumbuh dalam konflik. Dosanya bukan pelanggaran terhadap aturan, melainkan keengganan untuk bertanggung jawab atas kebebasan itu sendiri. Yesus tidak datang untuk membayar utang; Ia datang untuk menghancurkan logika utang itu sendiri. Ia menebus manusia dari pandangan sesat bahwa hidup adalah sistem tawar-menawar dengan Yang Ilahi, bahwa penderitaan adalah hukuman, dan bahwa kematian adalah kekalahan. Ia menunjukkan bahwa hidup adalah hadiah yang harus dijalani dengan cinta, bahkan ketika dunia membalasnya dengan salib.

Maka, marilah kita tinggalkan logika utang-utangan. Marilah kita berhenti menjadikan Allah sebagai kreditur yang haus darah. Marilah kita menggugat Paulus dan Anselmus bukan sebagai penghujatan, melainkan sebagai tindakan setia pada Yesus yang historis: Yesus yang tidak butuh teologi, tetapi butuh pengikut yang benar-benar mengasihi. Yesus pun bukan Socrates. Socrates mati dengan tenang karena ia tahu; Yesus mati dengan jeritan "Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" karena Ia merasa. Dan justru dari jeritan itulah, iman yang sejati lahir—bukan iman pada jawaban, melainkan iman pada pertanyaan yang tetap dicintai meskipun tak terjawab. Salib bukan tebusan; salib adalah konsekuensi dari cinta yang tidak kompromi. Dan itu adalah kabar baik yang sesungguhnya.

Jika kanonisasi Perjanjian Baru harus berhenti pada Kisah Para Rasul, saya meyakini bahwa pertanyaan Teodise dapat dijawab, atau bahkan bahwa pertanyaan itu tidak akan pernah ada. Kapan kita sadar bahwa Paulus sama dengan pendeta zaman sekarang yang berkhotbah sesuai dengan konteks tempat dia hidup dan melayani?


No comments:

Post a Comment