Saya bertumbuh di lorong-lorong gereja—di antara bau kayu bangku yang tua, nyanyian yang bergetar dari dada jemaat, dan doa-doa yang kadang lirih, kadang lantang. Dari sana saya belajar tentang kasih yang tidak menuntut tepuk tangan, tentang pengorbanan yang tidak mencari sorotan, dan tentang satu kenyataan yang tak pernah benar-benar sederhana: pergantian pelayan.
Sejak kecil saya menyaksikan wajah-wajah berganti di mimbar. Hamba Tuhan datang dan pergi. Pendeta berpindah ladang. Pengurus berganti generasi. Semua disebut wajar. Semua dinamai rotasi, mutasi, estafet pelayanan. Namun entah mengapa, di dalam hati saya, setiap pergantian itu sering terasa seperti perpisahan yang tidak sepenuhnya tuntas—seperti cerita yang dipaksa berhenti sebelum titiknya benar-benar bulat.
Bukankah estafet seharusnya indah?
Dalam bayangan saya, estafet adalah tentang kepercayaan. Tentang satu tangan yang terulur, satu tangan yang siap menyambut. Tentang tongkat yang sama, arah yang sama, hanya pelarinya yang berbeda. Ada napas keberlanjutan di sana. Ada fondasi yang tidak diruntuhkan, melainkan diperluas. Ada visi yang tidak dihapus, melainkan diperdalam.
Namun kenyataan kadang tidak seramah teori. Yang kerap saya saksikan bukanlah estafet, melainkan semacam “kelahiran ulang” yang terlalu tergesa. Pelayan baru datang dengan semangat yang membara—dan itu baik. Tetapi bara itu, alih-alih menghangatkan bara lama, justru sering meniupnya hingga padam. Program-program yang dahulu dirintis dengan air mata dan doa dihentikan begitu saja. Relasi yang dibangun perlahan dengan jemaat seperti benang halus yang terputus tanpa simpul. Sejarah pelayanan seakan dianggap lembar usang yang harus disobek sebelum menulis halaman baru.
Di sinilah ironi itu menikam pelan-pelan. Kebaruan, yang seharusnya menjadi daya hidup, berubah menjadi hasrat untuk meninggalkan jejak pribadi. Seolah-olah pelayanan baru sah disebut berhasil bila berbeda total dari sebelumnya. Seolah-olah melanjutkan berarti kalah kreatif. Padahal pelayanan bukan panggung kompetisi antargenerasi, melainkan perjalanan panjang yang melampaui nama siapa pun yang pernah berdiri di dalamnya.
Kadang saya bertanya dalam diam: sejak kapan kita lebih sibuk membangun “citra periode” daripada menjaga kesinambungan karya Tuhan?
Akibatnya terasa nyata. Pelayanan berjalan, tetapi seperti di tempat. Energi habis untuk memulai lagi dari nol. Jemaat dipaksa menyesuaikan diri berulang kali—dengan gaya baru, arah baru, kadang bahkan nilai penekanan yang berbeda. Bukan karena perubahan itu selalu salah, tetapi karena perubahan yang tidak berakar mudah membuat orang kehilangan rasa memiliki. Yang dulu dibangun bersama, kini terasa seperti milik masa lalu yang tak lagi dihargai. Gereja pun tampak bergerak, tetapi tidak benar-benar melangkah maju. Ia sibuk merakit ulang roda, alih-alih mempercepat laju yang sudah ada.
Di tengah kegelisahan itu, saya menemukan dua api kecil dalam perenungan pribadi. Yang pertama saya sebut sebagai mencintai ego. Lama saya berpikir bahwa ego harus dikorbankan agar pelayanan tetap hidup. Namun semakin saya berjalan, semakin saya menyadari bahwa ego tidak harus dilayani, tetapi juga tidak perlu dimusuhi. Ego adalah bagian utuh dari diri manusia—tempat berdiamnya hasrat kecil untuk diakui, rasa iri ketika tertinggal, perasaan tersisih ketika tidak dilibatkan, dan dorongan untuk bersaing agar merasa berarti.
Semua itu bukan dosa keberadaan, melainkan tanda kemanusiaan. Mencintai ego berarti berani mengakuinya tanpa memberinya panggung. Ia tidak perlu dielu-elukan, tetapi juga tidak perlu ditekan hingga menjadi luka tersembunyi. Ketika ego dicintai, lahir kesadaran baru: bahwa dorongan untuk dibandingkan bukanlah alasan menilai orang lain, melainkan kesempatan mengevaluasi diri sendiri. Iri berubah menjadi refleksi. Persaingan berubah menjadi pertumbuhan. Keinginan diakui berubah menjadi dorongan untuk melayani dengan lebih tulus.
Pelayan yang mengenal egonya tidak lagi sibuk meninggalkan jejak pribadi, sebab ia tidak sedang membuktikan nilai dirinya. Ia mampu melanjutkan apa yang sudah ada tanpa merasa kehilangan identitas. Ia tahu bahwa keberlanjutan bukan ancaman bagi eksistensinya, melainkan ruang di mana dirinya ikut bertumbuh bersama karya yang lebih besar darinya.
Yang kedua adalah semangat pastorium praedicatorum—persekutuan para pelayan. Pelayanan tidak boleh terkurung dalam sekat periode. Harus ada ruang untuk duduk bersama: yang lama dan yang baru, yang pergi dan yang datang. Ruang untuk bercerita, bukan sekadar melapor. Ruang untuk mewariskan bukan hanya program, tetapi juga pergumulan, luka, dan harapan. Di sanalah estafet menemukan maknanya—bukan dalam seremoninya, tetapi dalam relasinya.
Namun persekutuan itu tidak boleh menjadi ruang yang kering. Pastorium praedicatorum harus dibanjiri air segar—sebuah mata air tempat para gembala sendiri datang untuk dipulihkan sebelum kembali menggembalakan. Sebab di tepi pelayanan selalu terbentang jurang nihilisme: kelelahan yang tak terlihat, makna yang perlahan mengabur, dan rutinitas yang diam-diam menggerus panggilan. Sejingkal saja pandangan seorang praedicator terhempas, nihilisme dapat menjadi batu badaong yang sewaktu-waktu dapat menelan manusia-manusia yang paling tulus sekalipun.
Karena itu gembala tidak hidup hanya dari seruling yang merdu di telinga umat, bukan pula dari orasi yang menggema di mimbar. Ia tidak bertahan oleh tepuk tangan atau kekaguman. Gembala hidup dari sesuatu yang lebih sunyi: senyum setiap domba yang kembali menemukan arah, langkah kecil yang pulih, dan harapan yang tetap menyala di tengah kerapuhan manusia.
Karena pada akhirnya, pelayanan yang sehat bukan diukur dari seberapa revolusioner program yang diluncurkan, melainkan dari seberapa setia ia menyambung kisah yang sudah lebih dulu ditulis Tuhan. Kebaruan tetap penting, tetapi ia seharusnya tumbuh dari akar, bukan menggantikan akar.
Saya masih mencintai gereja. Dengan segala dinamikanya. Dengan segala dramanya. Tetapi di dalam doa-doa pribadi, saya selalu berharap: kiranya setiap rotasi bukan menjadi titik putus, melainkan simpul yang menguatkan. Kiranya setiap pelayan yang datang tidak merasa perlu memulai segalanya dari nol, tetapi berani berdiri di atas pundak mereka yang lebih dulu berlari.
Sebab pelayanan bukan tentang singkatnya masa kejayaan nama kita. Ia adalah tentang panjangnya kisah kasih Tuhan—yang tak pernah berhenti, bahkan ketika para pelayannya berganti.
