Saya datang ke Morella sebagai penonton biasa. Bukan peneliti, bukan akademisi. Hanya seseorang yang ingin melihat langsung tradisi yang selama ini hanya saya dengar ceritanya. Tapi apa yang saya saksikan meninggalkan rasa ganjal yang tidak bisa saya pendam begitu saja. Tulisan ini bukan laporan ilmiah. Ini adalah refleksi seorang penonton yang peduli.
Sore tadi, selesai Ashar, Lapangan pukul sapu lidi Negeri Morella sudah dipadati warga dan wisatawan. Sebuah pesta adat yang digelar tujuh hari pasca bulan suci Ramadhan ini selalu mempunyai daya tarik tersendiri. Sengaja ditaruh pada akhir acara memberi sedikit kesan penasaran bagi penonton yang hadir. Namun walau demikian, tarian-tarian pembuka yang mengisi acara menjemput atraksi sakral di penghujung tak kala menariknya.
Wanita-wanita berpakaian rapi, kostum nan indah, melakoni peran budaya, mereka menari menunjukkan gerak tubuh, mempersembahkan narasi sejarah yang elok. Dari dayung perahu, manakala konsensus terjadi antara pata siwa- pata lima, merpati putih yang sekujur tubuhnya tersemat peta politik zaman dulu yang bahkan membuat saya bertanya: dari mana mereka mempelajarinya? Sebab baik kepala hingga ekor, adalah lambang kedudukan dan posisi politik, kuasa yang dipakai dalam medan perang melawan kolonialisme. Mereka memberi sejarah pada gerak tubuh. Walau panas menikam bola mata seluruh penonton, keringat meronta keluar, tetapi di dalam arena bebas, sejarah masa lampau sementara menari liar menuntut ratusan penonton menyaksikannya. Kami masih di sini – kata pelaku sejarah tak kasat mata bagi yang kasat mata.
Tiba pada momen puncak. Pukul sapu lidi. Dua regu (celan hitam dan merah) berdiri berhadapan—timur dan barat. Lidi enau sudah di tangan. Suasana tegang tapi penuh semangat. Saya menunggu momen ketika tetua adat akan memulai ritual. Namun penampakan aneh terlihat. Ada seorang tua adat menggunakan busana merah dari kepala hingga kaki, berdiri di bagian belakang barisan, ketika seluruh aktor berjejer menghadap podium nan indah tempat duduk pemangku kebijakan: gubernur, Bupati, anggota DPR, para raja dan undangan lainnya.
Sebelum tetua adat bergerak, para pejabat pemerintah—mengenakan setelan rapi—maju turun ke lapangan. Lalu, dengan senyum lebar, mengambil lidi dan mulai memukul. Baru setelah itu, pejabat ini "menyerahkan" tradisi kepada para pemuda untuk dilanjutkan. Ia menjadi algojo pada hak yang bukan seharusnya miliknya. Saya melihat wajah tetua adat di barisan belakang. ia tersenyum. Tapi senyum yang saya tangkap adalah senyum yang sudah terbiasa menerima kenyataan. Senyum yang tidak lagi mempertanyakan mengapa yang memulai ritual leluhur adalah orang yang mungkin tidak pernah menjalani ritual persiapan, tidak pernah berpuasa, tidak pernah dipersiapkan secara spiritual.
Rasa ganjal saya sederhana: sejak kapan pejabat pemerintah menjadi bagian dari ritus adat?
Saya tidak anti-pemerintah. Saya mengerti bahwa dukungan anggaran, keamanan, dan promosi pariwisata penting. Tapi ada batas yang tidak boleh dilampaui. Dan batas itu, bagi saya, adalah ketika pemerintah mengambil alih peran yang seharusnya menjadi hak eksklusif otoritas adat.
Dalam tradisi yang masih hidup, yang memulai ritual adalah mereka yang memiliki kapasitas spiritual untuk melakukannya. Di Morella, itu adalah tetua adat yang telah menjalani persiapan ritual. Bukan karena jabatan struktural. Bukan karena anggaran. Tapi karena pengetahuan dan kesiapan spiritual. Ketika pejabat—yang mungkin tidak menjalani persiapan itu—ditempatkan sebagai "pembuka", terjadi pergeseran makna. Yang tadinya ritual sakral yang dibuka oleh otoritas spiritual, berubah menjadi acara seremonial yang dibuka oleh otoritas birokrasi.
Mengapa ini bisa terjadi? Saya mencuriga ada hubungannya dengan logika yang sudah sangat membudaya di negeri ini: logika donatur. Karena pemerintah memberi dana, maka pemerintah merasa berhak mengatur. Karena pemerintah mendukung, maka pemerintah harus mendapat tempat terhormat—bahkan tempat yang seharusnya tidak menjadi haknya. Masalahnya, tradisi ini sudah ada ratusan tahun sebelum anggaran pemerintah ada. Tradisi ini lahir dari perang melawan penjajah. Ia dirawat oleh komunitas yang rela terluka demi menghormati leluhur. Ia bertahan karena ia adalah kebutuhan batin masyarakat Morella, bukan karena ia adalah acara yang didanai. Dengan logika donatur, terjadi pembalikan: seolah-olah tanpa pemerintah tidak ada tradisi. Seolah-olah budaya adalah proyek yang dibeli dan dikendalikan oleh yang membayar. Ini keliru. Budaya adalah milik komunitas yang menghidupinya. Pemerintah boleh membantu, tapi tidak boleh mengambil alih.
Saya membayangkan apa yang hilang dari tradisi ini ketika pejabat mengambil alih peran. Hilangnya sakralitas. Ritual yang sakral adalah ritual yang berlangsung menurut logikanya sendiri. Ketika logika birokrasi masuk menggantikan logika adat, yang sakral menjadi profan. Ia tidak lagi menjadi pertemuan dengan leluhur. Ia menjadi sekadar acara. Saat otoritas adat hilang, generasi muda yang menyaksikan ini belajar bahwa yang berhak menentukan adalah yang punya kekuasaan struktural, bukan yang punya pengetahuan adat. Ini menggerus otoritas tetua adat. Dan jika otoritas mereka melemah, siapa yang akan mewariskan doa-doa, kapata, dan pengetahuan ritual ke generasi berikutnya?
Dalam ritual tradisional, semua orang adalah pelaku. Tetua adat, pemuda, bahkan penonton—semua terlibat dalam pengalaman kolektif. Dalam acara yang disetir, struktur berubah: ada yang membuka, ada yang mengawasi, ada yang disaksikan, ada yang melaksanakan. Ini bukan kebersamaan utuh; ini adalah hierarki. Pada momen ini tradisi pukul sapu kehilangan nyawanya. Pukul Sapu lahir dari perang. Ia adalah tradisi yang di dalamnya ada darah, ada luka, ada keberanian untuk melawan. Tapi ketika ia dijinakkan menjadi acara resmi yang dibuka pejabat, semangat itu mati perlahan. Tradisi ini menjadi jinak. Tidak lagi mengancam siapa pun.
Saya perlu tegaskan: saya tidak mengatakan pemerintah tidak boleh terlibat. Pemerintah punya peran. Mereka bisa memfasilitasi, membantu logistik, menjaga keamanan, mempromosikan. Tapi peran itu haruslah peran yang mendukung, bukan mengendalikan. Yang terjadi di Morella, hemat saya, adalah over-intervensi. Pemerintah tidak sekadar hadir sebagai tamu yang dihormati. Ia hadir sebagai penguasa yang menentukan jalannya acara. Padahal, dalam ritual adat, yang berhak menentukan adalah adat itu sendiri. Saya membayangkan bentuk keterlibatan yang ideal: pejabat datang sebagai undangan. Ia duduk di tempat yang telah disediakan. Ia menyaksikan. Ia dihormati. Tapi ia tidak mengambil alih peran ritual. Tetua adat yang memulai, sesuai dengan protokol adat yang telah berlangsung ratusan tahun. Pejabat boleh memberi sambutan—sebelum atau sesudah ritual—tapi tidak di tengah-tengah ritus yang sakral.
Saya hanya penonton biasa. Saya tidak punya kuasa untuk mengubah apa pun. Tapi saya punya hak untuk berbicara tentang apa yang saya saksikan. Dan saya memilih untuk berbicara, karena saya peduli. Saya peduli pada tradisi ini. Pada darah yang ditumpahkan para leluhur. Pada makna yang terkandung dalam setiap pukulan. Pada kebersamaan yang seharusnya dirayakan. Dan saya khawatir, jika intervensi seperti ini terus dibiarkan, tradisi ini akan kehilangan jiwanya. Bentuknya mungkin masih ada. Setiap tahun, tujuh Syawal, pukulan tetap berlangsung. Tapi jika yang memulai bukan tetua adat yang telah dipersiapkan secara spiritual, jika logika yang mengatur bukan logika adat tapi logika protokol, maka yang tersisa hanyalah cangkang kosong. Tontonan tanpa makna. Tradisi tanpa jiwa.
Kapitan Telukabessy berpesan: "Biar korban jiwa dan dilenyapkan, akan tumbuh generasi penerus." Pesan itu adalah pesan tentang ketahanan. Tapi ketahanan itu bukan berarti membiarkan tradisi dikendalikan dari luar. Ketahanan adalah kemampuan mempertahankan otonomi. Kemampuan untuk mengatakan: ini milik kami. Kami yang menentukan. Dan kami tidak akan membiarkan siapa pun, sekaya atau sekuat apa pun, mengambil alih hak kami.
Saya berharap masyarakat Morella—terutama generasi mudanya—masih memiliki keberanian untuk mempertahankan otonomi itu. Saya berharap pemerintah belajar untuk menghormati batas. Dan saya berharap tradisi Pukul Sapu tetap hidup, bukan sebagai atraksi yang disetir, tapi sebagai ritual yang dihayati oleh komunitas yang merdeka. Karena pada akhirnya, tradisi yang layak diwariskan bukan tradisi yang diatur oleh kekuasaan di luar dirinya. Tapi tradisi yang tetap hidup karena ia dihidupi oleh komunitas yang bebas.
Morella, Maluku Tengah, 28/03/2026.


No comments:
Post a Comment