Apa yang terjadi ketika seorang pimpinan gereja lebih sibuk membangun kerajaannya sendiri daripada merawat domba? Saya mengajukan pertanyaan ini bukan karena ingin menggurui, melainkan karena saya menyaksikan sendiri—di banyak tempat, bukan satu – sebuah ironi yang terus berulang: panggilan untuk melayani berubah menjadi panggung bagi superbia pribadi.
Seorang saudara atau saudari ditahbiskan, dipilih menjadi penatua, dipercaya memimpin umat. Lalu perlahan terjadi transfigurasi yang aneh. Bukan transfigurasi rohani menuju serupa dengan Kristus, melainkan transformasi sosial menjadi seorang penguasa kecil: sensitif terhadap kritik, haus pengakuan, dan lihai dalam drama kekuasaan.
Bukan jabatannya yang salah. Gereja memang butuh struktur, butuh mereka yang dipanggil untuk memimpin. Masalahnya terletak pada satu hal yang jarang dibicarakan secara terbuka, tidak semua yang menduduki jabatan gerejawi telah siap mengorganisasikan dirinya sendiri. Kita pandai menyusun program, mengatur rapat, membangun struktur yang tampak rapi. Tapi di balik semua kompetensi teknis itu, kadang tersembunyi jiwa yang rapuh. Jabatan tidak lagi menjadi sarana pelayanan, tetapi menjadi pengganti – pengganti harga diri yang tak pernah kokoh. Kritik sekecil apa pun terasa sebagai luka yang mengancam eksistensi. Perbedaan pendapat dibaca sebagai pemberontakan. Lambat laun, terbangun sistem dominasi: pusatkan kekuasaan, singkirkan lawan, kelilingi diri dengan orang-orang yang setia, bukan yang jujur.
Ini bukan sekadar masalah psikologi. Bukan sekadar “ego” yang bisa diatur dengan pelatihan kepemimpinan. Akarnya lebih dalam, ada superbia, kesombongan yang membuat seseorang merasa dirinya lebih dari yang seharusnya. Ada concupiscentia, hasrat yang kacau yang membuat jabatan rohani diperlakukan seperti barang rampasan. Inilah yang oleh Agustinus dan Luther disebut curvatus in se—hati yang melengkung ke dalam, tidak mampu lagi menjangkau keluar kepada Allah dan sesama. Sebuah kondisi dosa fundamental yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan buku manajemen atau retret motivasi. Ia hanya bisa dihadapi dengan kematian dan kebangkitan bersama Kristus.
Dalam tradisi teologi, ada istilah yang sangat bagus: Selbstkompetenz—kemampuan mengelola diri. Seorang pemimpin Kristen, sebelum pandai mengatur organisasi, pertama-tama harus pandai mengatur hatinya yang melengkung itu. Ia harus tahu di mana letak harga dirinya yang sejati. Sebab jika harga diri seorang pemimpin bergantung pada jabatan, maka ia akan melakukan apa pun untuk mempertahankannya. Dan di situlah drama dimulai.
Untuk memahami drama ini, kita perlu membedakan dua hal: Amt dan Person. Amt adalah jabatan yang diberikan gereja—fungsi, amanah, instrumen untuk pelayanan. Amt bukan milik pribadi. Ia datang dari Kristus, dipercayakan kepada seseorang untuk sementara waktu, dan akan dipertanggungjawabkan. Ia ada sebelum kita lahir dan akan tetap ada setelah kita mati. Person adalah kita sendiri—dengan segala isi hati: mimpi dan ketakutan, luka lama yang belum sembuh, ambisi yang kadang tidak kita sadari, benteng pertahanan diri yang kita bangun sejak kecil.
Kekacauan terjadi ketika Amt dan Person dicampuradukkan . kita mulai berpikir bahwa karena saat kita menduduki Amt, maka kita adalah Person yang istimewa. Karena saya ketua, pendapat saya tidak boleh diganggu gugat. Karena saya pendeta, kritik terhadap kebijakan saya sama dengan menghujat Tuhan. kita tidak lagi membedakan antara jabatan yang diemban dengan diri sendiri. Yang terjadi adalah curvatus in se yang memakai jubah jabatan.
Pada titik itulah Person menelan Amt. Jabatan yang seharusnya menjadi sarana pelayanan berubah menjadi kerajaan pribadi. Dan dari kerajaan kecil itu lahirlah semua drama yang kita saksikan: perebutan pengaruh, pembentukan kubu, gosip sebagai senjata politik, hingga perpecahan yang meninggalkan luka lintas generasi.
Semua itu terjadi bukan karena gereja kekurangan orang pandai, tetapi karena gereja kekurangan orang yang telah mati terhadap curvatus in se-nya. Kita pandai melantik manajer yang cakap, tapi gagal membentuk hamba yang rendah hati. Kita melantik Person, tapi lupa bahwa Amt bukan miliknya.
Yesus berbicara gamblang tentang hal ini. Ia melihat sendiri bagaimana para penguasa bangsa-bangsa “memerintah dengan kuasa” dan “menjalankan kekuasaan” atas bawahan mereka. Lalu Ia berkata: “Tidak demikian di antara kamu” (Markus 10:42–43). Nicht so bei euch. Pernyataan itu seharusnya menjadi konstitusi dasar kepemimpinan dalam gereja. Jika seorang pemimpin gereja memerintah dengan cara yang sama seperti penguasa dunia—dengan dominasi, intrik, dan perebutan takhta—maka ia telah meninggalkan teladan Gurunya.
Dietrich Bonhoeffer menulis dalam Nachfolge bahwa pemimpin sejati adalah ia yang membiarkan Kristus menjadi satu-satunya Pemimpin. Ia sendiri hadir bukan sebagai tuan, tetapi sebagai saudara di tengah komunitas. Dengan menyebut saudara, kita sedang menghapus threshold dominan - membangun kesetaraan menghapus neraca sosial. perihal kesetaraan dalam lingkungan bergereja, Calvin pun menekankan kesetaraan antara pendeta dan penatua—dua jabatan yang setara dalam konsistori. Namun, sejarah justru menunjukkan ironi ketika terjadi re-feodalisasi jabatan: pendeta menjadi “tuan tanah” rohani, penatua menjadi “bangsawan kecil” yang setia atau bersaing. Drama perebutan takhta tidak hilang; ia hanya mengganti kostum.
Kepemimpinan dalam gereja, dengan kata lain, adalah kepemimpinan yang justru melepaskan kuasa, bukan mengakumulasinya. Seorang pemimpin dalam gereja bukanlah Übermensch yang diidealkan Nietzsche, bukan pula Leviathan yang dipromosikan Hobbes. Dalam gereja, Machtablegung—pelepasan kuasa—adalah spiritualitas yang langka namun sangat dibutuhkan. Sebab hanya pemimpin yang berani melepaskan kuasa yang tidak akan pernah takut kehilangan jabatan. Ia tahu bahwa Amt bukan miliknya. Ia hanya mengembannya sebentar, lalu akan memberikannya kepada yang lain.
Tentu saja, melepaskan kuasa bukan berarti membiarkan kekacauan. Gereja tetap membutuhkan struktur, aturan, dan akuntabilitas yang sehat. Calvin sendiri tidak hanya mengandalkan kerendahan hati pendeta; ia membangun konsistori dengan majelis yang saling mengawasi. Spiritualitas tanpa struktur bisa menjadi samar; struktur tanpa spiritualitas bisa menjadi kaku. Keduanya perlu berjalan bersama. Tapi fondasinya tetap sama: pemimpin yang tahu bahwa kuasa yang dipegangnya bukan untuk dipertahankan, melainkan untuk dilayankan.
Saya tidak sedang menulis tentang satu gereja tertentu. Saya sedang merenungkan kecenderungan universal dalam diri kita semua yang pernah, sedang, atau akan memegang tanggung jawab kepemimpinan. Sebab musuh terbesar kepemimpinan Kristen bukanlah lawan di luar, melainkan curvatus in se di dalam. Dan penyakit hati yang melengkung ini tidak mengenal denominasi.
Pertanyaan yang harus terus-menerus kita ajukan kepada diri sendiri adalah: Apakah saya memimpin untuk melayani, atau melayani untuk memimpin? Apakah jabatan ini membuat saya semakin rendah hati atau semakin merasa penting? Apakah saya mendambakan pengikut, atau saudara? Apakah saya masih bisa membedakan antara Amt yang saya emban dan Person yang saya miliki—dan menyadari bahwa keduanya hanya dapat diluruskan oleh anugerah Kristus?
Drama berjuta episode hanya akan berhenti ketika kita berani mengakui bahwa takhta bukanlah tujuan kita. Sebab ada satu takhta yang pernah ditawarkan kepada Yesus Kristus—dan Ia menolaknya. Yang Ia pilih justru palang. Bukan karena Ia takut kuasa, tetapi karena Ia datang untuk mentransformasikan kuasa: dari kuasa yang menindas menjadi kuasa yang menyembuhkan, dari takhta yang menjulang menjadi salib yang merendah.
Maka jika kita mengaku mengikuti Dia, mungkin kita pun harus memilih jalan yang sama. Melepaskan takhta, memanggul palang, dan melayani hingga akhir. Sebab hanya dengan mati terhadap curvatus in se kita, kita bisa hidup sebagai hamba yang merdeka.
Karena pada akhirnya, gereja tidak sedang membutuhkan lebih banyak raja-raja kecil. Gereja sedang merindukan lebih banyak hamba yang tahu bahwa mereka tetaplah hamba—bahkan setelah dilantik, bahkan setelah diberi gelar, bahkan setelah duduk di kursi kepemimpinan.

No comments:
Post a Comment